Rabu, 19 September 2018

Pengaturan Uang



                “Besar pasak dari pada Tiang” Istilah yang cocok banget untuk sebagian orang. Mereka kesulitan mengatur pengeluaran yang lebih besar dari pada pemasukan. Bukan Cuma mereka, bahkan aku sendiri sering mengalami nya. Jadi tulisan ini dibuat untuk kalian, dan juga untuk kita yang lagi berusaha menimalisir pengeluaran yang semakin membengkak dari bulan ke bulan. Kebutuhan setiap orang berbeda, kebutuhan seorang pelajar dengan seorang jelas tidak sama. Seorang pekerja akan lebih banyak mengeluarkan uang dari pada mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Mengatur pengeluaran seakan menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Menantikan tanggal gajian dengan tidak sabar, setelah hari itu tiba, hanya beberapa hari nominal di rekening tabungan sudah terlihat sangat mengkhawatirkan. Lalu gimana kehidupan sebulan kedepan?
                Hmmmm, jangan lupa bahwa 2,5% dari harta yang kita punya adalah milik mereka. Setiap kali gajian, selalu sisihkan sebagian dari uang yang kita terima untuk di sumbangkan pada mereka yang membutuhkan. Baik itu anak yatim, pengemis, musafir, atau siapapun orang yang ada disekitarmu yang sekiranya sangat memerlukan bantuan. “once you give more, you’ll receive more” Nggak perlu takut untuk bersedekah karena Allah pasti akan mengganti kebaikanmu berlipat ganda. Next, tulis semua hal yang kamu butuhkan dan kamu inginkan. Buat sebuah tabel dengan tiga kolom. Isi kolom pertama dengan tulisan “Yang aku butuhkan” dan kolom kedua “Yang aku inginkan” dan kolom terakhir adalah “Yang harus di bayar” contoh :
               
Yang Aku butuhkan
Yang Aku inginkan
Yang Harus Dibayar
Kuota internet -> 55.000
Sepatu Sport -> 350.000
Tagihan Listrik -> 200.000
Go Pay -> 200.000
Menonton Di Bioskop -> 100.000
Kosan -> 700.000
Skincare -> 100.000
Blous Baru -> 100.000



Jumlah = 355.000


Jumlah = 550.000


Jumlah = 900.000

Tabel diatas adalah contoh kecil dari analisa setiap barang dan hal yang kamu butuhkan setiap bulannya. Tulis dengan rinci jenis barang serta harga nya sesuai dengan kolom dimana seharusnya barang itu berada. Ingat kembali masalah skala prioritas. Barang – barang yang di tulis di kolom kebutuhan adalah barang-barang yang benar-benar kamu butuhkan, jika kamu tidak membeli nya makan akan berdampak buruk pada kehidupanmu sehari-hari. Barang yang ada di kolom keinginan hanyalah barang yang kamu inginkan, tetapi jika tidak dibeli pun tidak akan menjadi masalah, atau bisa kamu beli di lain waktu ketika kamu punya penghasilan lebih. Nah, di kolom yang harus dibayar adalah sesuatu yang wajib dan akan sangat bahaya jika dilewatkan. Biasanya seperti keharusan membayar listrik, kosan, cicilan motor dan kebutuhan lainnya yang harus segera di bayar. Dengan mejumlahkan kolom “Yang aku butuhkan” dengan kolom “Yang harus dibayar” kamu akan mengetahui kira-kira bulan ini kamu akan mengeluarkan berapa rupiah. Jika setelah di jumlahkan dan gaji mu masih tersisa, kamu bisa menggunakan sisa gaji mu untuk membeli barang yang ada di kolom “Yang aku inginkan”.
Tips berikut nya adalah, jangan lupa untuk memisahkan uang makan. Setiap harinya kita pasti perlu sesuatu untuk dimakan demi menjaga energy agar tetap fit dalam melakukan aktivitas dan juga pekerjaan. Untuk kamu yang masih tinggal di rumah dengan orang tua, kamu tidak perlu pusing memikirkan hari ini mau makan apa? Karena ibumu pasti menyediakan makan untukmu. Nah, untuk kamu anak rantau yang tidak bisa mengandalkan siapapun, kamu harus mengalokasikan gaji mu untuk kebutuhan makananmu. Sebelum membelikan gajimu pada barang yang kamu inginkan dan kamu butuhkan, kamu harus memisahkan terlebih dahulu gajimu untuk biaya makan, jangan lupa juga untuk transportasi. Nominalnya sesuai dengan kebutuhanmu, dan sesuai dengan frekuensi makan kamu perhari. Begitupun dengan nominal transportasi. Saranku nih, beli lah Gopay (untuk pengguna gojek) atau grabpay (untuk pengguna grab). Aku sudah berbulan bulan menggunakan Gopay karena menurutku lebih hemat. Satu bulan, aku rutin mengisi Gopay ku senilai 200.000 untuk transportasi ke tempat kerja, atau kemanapun. Kenapa harus Gopay? Karena uang dalam bentuk virtual lebih membuat kita hemat, percaya nggak percaya saat kamu memegang uang cash pasti selalu ada godaan setan untuk menghabiskan uang tersebut. Makanya, aku jarang sekali pegang Uang cash, aku lebih mengandalkan Gopay untuk transportasiku. Selain itu tarifya juga lebih murah dari pada kita harus membayar cash dan point yang akan kita dapat lebih besar kemungkinannya.
Setelah mengatur skala prioritas, buatlah evaluasi bulanan dengan cara mengumpulkan struk pembelanjaan. Dompetku penuh sekali dengan struk belanja ataupun struk ketika aku mengambil uang di atm. Berawal dari hobby mengumpulkan struk, lama-lama ku pikir struk ini juga bermanfaat. Jangan pernah buang struk setelah kamu selesai bertansaksi berbelanja apapun. Kumpulkan struk tersebut dan bundle menjadi satu diakhir bulan menuju gajian. Setelah itu kamu bisa menjumlahkan berapa banyak uang yang telah kamu keluarkan di bulan ini dari struk-struk tersebut. Kamu juga bisa menganalisa kemana uang mu pergi, karena kadang kita suka nggak sadar. “Loh, kok uang ku segini lagi? Emang tadi beli apa aja ya?” Nah, saat kamu lupa kamu tinggal melihat struk yang kamu jaga. Sehingga kamu bisa mengevaluasi pengeluaran kamu dan meminimalisirnya di bulan berikutnya.
Terakhir adalah sisihkan uangmu untuk menabung. Kamu harus punya target menabung setiap bulannya. Entah itu 100.000 atau 500.00 yang penting setiap kali kamu menerima gaji dan pemasukan kamu wajib menyimpan uang yang tidak boleh diganggu gugat tersebut. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Saat sesuatu yang mendesak terjadi dan kamu harus punya uang, kamu tinggal menggunakan uang tabungan kamu selama ini. Misalkan saja, tiba-tiba kamu harus membayar tagihan rumah sakit atau biaya berobat lainnya, kamu sudah punya tabungan untuk mengcover semua itu. Segala kemungkinan bisa terjadi dan ketika kita sudah siap secara finansial tidak perlu ada yang di khawatirkan. Jangan sampai bekerja bertahun-tahun, tenaga dan pikiran terkuras tapi ketikan melirik buku tabungan tidak ada nominal apapun disana.             
Untuk kamu yang senang travelling kamu juga bisa menggunakan uang tabunganmu untuk pergi jalan-jalan kemanapun kamu mau. Kamu juga harus punya target, berapa lama kamu menabung untuk traveling tersebut. Setelah uang nya terkumpul, kamu bisa menikmati liburanmu tanpa harus mengganggu gajimu yang dialokasikan untuk kebutuhan lain. Liburan itu perlu loh, apalagi untuk para pekerja yang sering dibuat penat oleh setumpuk pekerjaan, macet yang melelahkan, dan jug abos rewel yang sangat menyebalkan. Jadi, jangan sungkan-sungkan untuk merencanakan liburan 1 atau 3 bulan sekali.
Well, itu dia beberapa tips yang bisa aku berikan. Semoga kita bisa lebih bijak dalam mengatur pengeluaran agar tidak menyesal dikemudian hari, dan tidak mengalami krisis kantong kering di tengah bulan. Semoga bermanfaat, selamat mencoba.


Body Critizm




Kalau semua manusia bisa meminta sama Tuhan Yang Maha Kuasa soal bagaimana bentuk tubuh mereka, tentu aja di dunia ini nggak akan ada si Tinggi yang menghina si pendek, si Hidung mancung yang menghinda si pesek, si kulit putih yang menghina si kulit hitam, si mata belo yang menghina si sipt , atau si rambut lurus yang menghina si rambut keriting.
Menurutku orang-orang yang mengkritik bentuk ciptaan Tuhan adalah orang-orang yang nggak sadar bahwa dirinya juga hanya seorang mahluk yang nggak berdaya, padahal bentuk tubuh dia juga Tuhan yang menciptakan. Lantas berhak apa dia dalam mengkritik? Toh dia juga pasti nggak akan bisa menciptakan bentuk se-sempurna yang Tuhan ciptakan.
Kritik emang sesuatu yang bagus , kritik yang bertujuan untuk menjadikan seseorang lebih baik. Tapi menurutku ada beberapa kritik yang pada akhirnya malah jadi hal yang nggak berguna, dan walaupun kamu mengkritik yang ada malah menimbulkan rasa sakit hati.  Misal saja ketika ada seseorang yang memasak dan rasanya terlalu asin, lalu kamu kritik dan dia bisa memperbaiki masakannya mengurangi takaran garam yang dia pakai sehingga bisa lebih layak makan. Lain cerita kalau kamu mengkritik bentuk tubuh seseorang, apa yang akan kamu dapat?
“Kulit kamu hitam banget sih?” Kalau dari lahir dia memang sudah berwarna gelap bagaimana? Kalau gen yang diturunkan oleh orang tuanya memang sudah berwarna gelap bagaimana? Hanya karena kamu berkulit lebih cerah bukan berarti kamu punya hak untuk mengatai orang yang warna kulitnya tidak secerah kamu, apalagi dengan melontarkan guyonan seperti “Si Hitam” mungkin bagi kamu itu lucu atau terkesan biasa saja, tapi bagi orang yang mendengarnya?
“Dasar pendek, gendut!” Kalau dia memang di takdirkan untuk berbentuk tubuh seperti itu lantas kamu bisa apa? Kalau dia sudah berusaha untuk olahraga untuk menjadi setinggi kamu atau sekurus kamu dan pada akhirya berhasil nihil karena genetic keluarganya yang memang berpostur tubuh pendek dan gendut kamu bisa apa?
“Itu hidung kamu kemana? Kok pesek?” Hanya karena tulang hidung kamu lebih Nampak dari pada punya nya, bukan berarti kamu memiliki hak untuk memberikan hinaan seperti itu. Lantas kalau dia punya hidung yang pesek dan kamu mengkritiknya apa yang akan kamu inginkan darinya? Kamu ingin agar dia pergi ke dokter dan melakukan operasi agar dia punya hidung seperti kamu?
Pada dasarnya manusia memang mahluk penilai, apa yang terlihat oleh matanya selalu jadi penilaian bahkan sampai lupa dengan yang namanya bercermin. Manusia terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain, mengkritiknya, memperbincangkannya, bahkan lebih parah lagi menghina nya. Menurutku menghina bentuk tubuh manusia baik itu matanya, jidatnya, hidungnya, kakinya atau apapun yang ada pada tubuhnya sama saja seperti kamu menghina sang Pencipta nya. Seolah Seolah kamulah pemilik tubuh paling sempurna di dunia ini, seolah- olah kamulah yang paling bagus di ciptakan oleh Tuhan. Dan menurutku mengkritik bentuk tubuh manusia yang tidak se bagus punya mu adalah hal yang sangat tidak berguna. Dan hanya orang-orang yang tidak tahu diri yang bercanda dengan bentuk fisik manusia.


Bertutur Kata Di Dunia Maya




            Beberapa hari yang lalu aku baru saja mengalami yang namanya di bash oleh sebuah akun annonim di instagram. Semuanya berawal saat aku iseng-iseng ngelkik explore dan nemu sebuah akun yang khusus membahas drama korea, yup! I really love drama korea dan disana diberitakan soal drama korea Why Secretary Kim yang berhasil mendapatkan ratting tertinggi sebagai salah satu drama yang mejeng di tv kabel. Selanjutnya aku melihat sebuah komentar yang dilontarkan oleh sebuah akun anonym, namanya ngga jelas, foto profil nya pun nggak jelas, disana juga nggak ada postingan poto atau apapun. Selebihnya aku simpulkan bahwa orang ini sengaja buat akun anonym yang bertujuan untuk menghujat dan juga menyebarkan hate speech dimana mana.
            Disana dia melontarkan komentar yang sama sekali nggak relatable dengan topic yang lagi di bahas sama akun tersebut. “Aku penasaran gimana nanti kalau Park Minyoung (nama pemeran utama wanita di drama Why Secretary kim) kalau punya anak, secara muka dia kan operasi plastic , dia rahang aslinya peyot sedangkan kalau gen nggak bisa di bohongi. Nanti pasti suami nya kecewa kalau anak mereka jadi jelek karena ibunya sudah melakukan operasi plastik sejak remaja”
Well, sebagai orang waras yang pertama terbesit di benak ku adalah “What the heck?” , Lantas aku membalas komentar dia “Penting banget ya ngurusin hidup orang? Penting banget mikirin nanti anak nya Park Minyoung bakalan kaya gimana muka nya? Kaya nggak ada hal penting lain aja dihidupmu buat dipikirin, so pitiful”
Nah, seinget ku. Aku sama sekali nggak melontarkan kalimat kasar maupun kalimat hujatan ke orang itu, tapi aku sangat kaget pas dapet balesan komentar dari dia.
Y ague kan Cuma nanya aja monyet, gue nanya nanti anak nya Park Minyoung mukanya bakalan kaya gimana dasar gagal paham lu monyet”
Oke, untuk sejenak aku diem, lama-lama emosi ku ikut tersulut ya wajar kan? Namanya juga manusia, dari lubuk hati yang paling dalem aku sama sekali nggak terima kalau sebutan “Monyet” itu dilontarkan. Tapi walau bagaimanapun aku mencoba untuk tidak membalas hujatan dia dengan bahasa kasar.
Wow, udah pemikirannya sempit bahasanya kotor lagi, pantesan aja”  Cuma itu yang aku balas, tiba-tiba dia melakukan personal attack. Aku yakin dia menglkik profil ku, untung saja waktu itu instagramku dalam keadaan privat.
Dari pada lo sok baik, berjilbab tapi peluk peluk yang bukan muhrim dasar munafik”
See? Aku ngga ngerti gimana orang ini berpikiran, profil instagram ku memang lagi berdua sama pacarku. Oke , aku akan bahas masalah ini di postingan lain, sekarang yang aku ingin soroti adalah what’s wrong with this person?
Setelah aku amati ternyata dia memang memanggil semua orang yang membalas komentar nggak penting dia dengan sebutan monyet, anjing, bego, sampah dan kata-kata nggak pantas lainnya. Aku lihat juga komentar yang dia posting sungguh-sungguh ngaco, out of topic dan sama sekali nggak bermutu. Aku yakin, bukan aku satu-satunya orang yang dihujat dan dibikin kesel sama akun anonym ini.
Pertama ini orang sangat nggak jelas, dia ngomentarin soal Park Minyoung yang melakukan operasi plastic. Emang udah nggak aneh sih kalau non kpop atau Hatters kpop selalu ngata-ngatain “plastic” . First of all. Don’t you know ? kalau operasi plastik di korea sana udah jadi budaya, bukan hal aneh, bukan hal tabu ataupun aib. Toh orang tua aja ada yang menghadiahkan anak nya operasi plastik pas masuk ulang tahun ke 17. See? Mestinya orang ini tahu budaya mereka seperti apa sebelum menghujat.
Kedua, dari semua hujatan operasi plastik yang pernah aku denger, ini adalah yang paling cringe. Gila nggak sih? Sampe banget ini orang mikirin anak nya Park Minyoung bentuk mukanya bakalan kayak apa? Serius, harusnya dia mikirin gimana nanti anaknya bakalan tumbuh kalau omongan orang tuanya macem sampah kaya gitu.
Ketiga, Omongan omongannya tuh bener-bener out of topic banget . Base lagi ngomongin ratting drama, lalu orang ini ngebahas operasi plastik ? okelah aku paham kalau emang artis-artis korea itu identik sama operasi plastik, tapi aku rasa dia ada di lapak yang salah untuk mengemukakan pendapat nggak penting nya itu.
Setelah aku pikir-pikir, kayanya ini orang emang segaja bersembunyi dibalik akun anonym nya. Secara dia bebas ngeluarin kata-kata kotor tanpa peduli dengan image dirinya nanti. Mungkin dia ketawa terbahak-bahak saat banyak orang yang merespon komentar bodohnya, tapi sekali lagi sebagai manusia normal aku berpikir “Biar apa?”
Hanya karena menggunakan akun anonym dan nggak ada yang tahu siapa identitas dibalik akun tersebut, bukan berarti seseorang bisa bertakata seenaknya. Hanya karena di dunia maya dan kesempatan untuk ketemu di dunia nyata adalah kecil, bukan berarti setiap orang punya kebebasan untuk mencaci maki. Hanya karena nggak suka dengan seseorang bukan berarti orang itu pantas untuk menerima hujatan. Dan alasan “suka suka gue, hape hape gue, kuota – kuota gue, terserah gue mau ngomong apa” adalah hal terbodoh yang seharusnya nggak di pelihara. Pemikiran sempit macem gitu yang bikin manusia jadi nggak memfungsikan hatinya.
Seseorang lahir ke dunia ini bukan untuk di hujat, bukan buat di kata-katain, bukan buat di bikin sakit hati dengan makian yang dilontarkan di dunia maya. Apapun perbuatannya, itu urusan dia dengan tuhan. And who are you to jugde?
Dan seperti yang dia bilang, mungkin aku emang munafik. Tapi setidaknya aku tahu cara bertutur kata, aku tahu cara menghargai orang lain, cara menjaga perasaan orang lain, dan aku tahu etika berinteraksi dengan orang lain baik di dunia nyata maupun di dunia nyata.
Tapi sayang, nggak semua orang tahu itu
Nggak semua orang tahu tata cara bertutur kata




Tidak Ada Tempat Untuk Si buruk Rupa


                Kompeten, penuh tanggung jawab, professional tapi jelek, jangan harap bisa di hargai. Kata siapa?
Emang kita ga pernah bisa menutup mata sama society di Indonesia yang apa-apa tuh di ukur dari look nya. Seberapa qualified nya kamu di dunia kerja, kalau kamu punya wajah yang jelek jangan harap dunia bakal mengapresiasi potensi yang kamu punya. I don’t how it’s work, seems like everybody just want to have a beauty partner.
                Kalau kualifikasi utamanya adalah khusus untuk orang cantik dengan tubuh yang ideal, lalu dimana kami para kentang? Apakah orang-orang jelek seperti kami tidak berhak untuk mendapatkan pekerjaan? Apakah kami yang sudah bekerja keras tidak berhak untuk mendapatkan pengakuan? What the heck with people, Body shaming masih selalu mengakar dan sulit untuk di hilangkan.
                Kalau semua celah pekerjaan hanya di peruntukan bagi orang-orang yang terlahir dengan wajah cantik, lalu kami yang sudah di ciptakan dengan wajah pas-pasan harus bagaimana?

Being Customer Service Be Like



                Terlahir sebagai seseorang yang “moody” membuatku kerepotan mengurusi diri sendiri, kalau sekarang aku sedang senang dan ceria bisa saja tiba-tiba beberapa menit kemudian aku menjadi pendiam dan murung. Apa penyebab nya? Hal hal kecil begitu membuatku sensitive, entahlah aku juga muak dengan diri sendiri karena belum bisa menyingkirkan perasan itu sampai sekarang. Sayangnya pekerjaan yang aku geluti sekarang adalah pekerjaan yang membutuhkan extra kesabaran, senyum cerah walaupun perasaan sedang kalut dan juga nada bicara yang lemah lembut pada setiap orang. Haram hukumnya bagi seorang customer service untuk bermuram durja apalagi berwajah masam.
                Menjadi seorang customer service selama satu tahun ini membuat aku belajar banyak hal tentang manusia, tentang tabiat, perangai, dan juga etika orang-orang yang lahir ke dunia. Dari berbagai pengalaman aku menyimpulkan beberapa tipe manusia walaupun bisa dibilang itu luarnya saja tapi etitude yang mereka tunjukan sudah menjadi representasi bagaimana mereka berperilaku sehari-hari. Observasi di lapangan membuatku menyimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sangat menyebalkan, dan selalu membuatku naik darah. Aku harus lebih belajar lagi mengatur emosi ku agar tidak menampakan wajah kesar pada mereka. “Custumer adalah raja” Oke, aku mengerti kenapa mereka bertingkah seenaknya, mungkin karena doktrin yang sudah di tanamkan sedari dulu. Memang betul, sebuah toko akan hidup oleh adanya pelanggan. Tapi itu tidak menjadikan mereka seharusnya bisa semena- mena pada karyawan nya.
                Customer selalu benar, aku juga heran kenapa aku selalu dibuat seolah-olah salah di mata mereka. Apapun yang mereka katakan rasanya harus selalu benar tidak peduli walaupun itu kebalikannya, dan pada akhirnya aku juga yang harus meminta maaf atas ketidak salahanku. Beberapa dari customer kadang sengaja menjebak dengan memainkan kata-kata, mereka lebih agresif dalam bertanya ini itu dan bahkan hal hal yang bersifat menyudutkan. Ada yang juga tidak tahu malu, mencari diskon besar-besaran dan begitu perhitungan atas segala harga. Hmmmmmm, selain itu yang berwajah sangat masam meskipun sudah kita sapa dengan ramah juga banyak. Tak hanya sampai disitu, aku juga sering dipertemukan dengan customer yang tidak bisa mengontrol emosinya, marah-marah dengan suara tinggi, menunjukan jari nya kepada kami seolah merendahkan, atau bahkan sampai memaki-maki. Well, yang seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku.
                I mean, why you gonna be so rude? Don’t you know I’m human too? Dia manusia, aku juga manusia, kami sama-sama diciptakan tuhan dengan seperangkat hati yang kalau dilukai akan terasa sakit. Hanya karena dia memiliki sedikit uang untuk membeli produk yang kami jual, apakah dia memiliki hak untuk mencaci maki dan merendahkan kami yang bekerja sebagai pegawai? Kalaupun ada kesalahan yang kami lakukan, kenapa tidak dibicarakan baik-baik dengan kepala yang dingin? So, semua kembali pada moral dan Etika. Aku ambil kesimpulan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang yang tidak tahu bagaimana dia harus berperilaku di tempat umum.
                However, nggak semua customer rese dan menyebalkan. Aku juga pernah bertemu beberap customer yang baik, ramah, responsive atas semua yang aku katakana dan juga mengerti bagaimana caranya mengobrol dengan manusia yang sedang bekerja. Rasanya menyenangkan saat serving mereka, karena feedback yang mereka beri padaku juga hangat. Saat aku menyapa, dia berbalik menyapa dan tersenyum. Biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang pintar dan tahu etika, tidak butuh waktu lama dan berbelit belit untuk menjelaskan suatu produk dan juga itung-itungan promo pada mereka. Sayangnya populasi mereka masih terlalu sedikit, dunia masih di dominasi oleh orang – orang yang menyebalkan, dan aku harus setiap hari bertemu dengan orang-orang macam itu.

Bicara Toilet




Seseorang pernah bilang, kalau kita ingin tahu bagaimana pribadi orang lain lihat toilet rumah nya. Ngga tahu gimana kebersihan toilet bisa merepresentasikan kepribadian seseroang. Karena memang, membersihkan toilet adalah hal yang paling malas untuk dilakukan. Tapi lain hal nya ketika toilet tersebut adalah milik bersama, alias toilet umum. Siapa saja bisa memakai, siapa aja bisa masuk dan buang kotoran disana. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas kebersihannya?
Kita bicara soal toilet restaurant, tanggung jawab kebersihan toilet itu mungkin di limpahkan sama pihak cleaning Service restaurant tersebut. Sehingga kalau toiletnya kotor atau rusak, pelanggan bisa langsung complain ke pihak restaurant. Oke, sebagai Customer Service yang juga merangkap agen bersih-bersih perasaan gedek selalu muncul setiap kali aku nge-cek toilet restaurant tempat aku kerja. Saat pintu di buka satu kata yang selalu keluar dari bibirku adalah “Hell!”. Tissue berserakan dimana – mana, air kencing berceceran di sekitaran closet duduk, air kencing yang kuning pekat dan nggak di siram, sampai nggak jarang juga aku nemuin “tokai” di closet. Sangat menjijikan.
Aku mulai mengeluh dan sering menggerutu tiap kali mengontrol kebersihan toilet. Sampai-sampai sering banget aku mengumpat, otak mereka dimana sih? Okelah, kalau mereka pikir mau ngotorin toilet itu adalah hal yang biasa aja, Toh nanti juga bakalan ada yang bersihin. Toh, nanti juga cleaning service nya bersihin, kalau bersih terus toiletnya kerja cleaning service nya apa dong? Gaji mereka juga kan bagian dari upah bersihin toilet. Hell yeah! It’s not about cleaning service, dude!
Manusia adalah mahluk yang paling sempurna, dibandingkan setan, jin, malaikat dan mahluk astral lainnya. Manusia lahir dengan seperangkat otak di dalem kepalanya, pertanyaanku adalah kenapa masih ada aja manusia-manusia yang menjadikan otak itu Cuma askesoris isi kepala. Kenapa masih ada aja manusia yang nggak memfungsikan otak nya dengan baik?. Jelas-jelas, di sudut toilet sudah tersedia tempat sampah. Dan anak paud juga tahu kalau tempat sampah adalah sarana untuk membuang sampah. In case toilet, kalau habis make tissue si tissue tersebut bisa langsung dibuang ke tempat sampah yang udah di sediakan. Tapi kenapa aku sering banget lihat Tissue berserakan di dekat tempat sampah, di bawah tempat sampah, bahkan ditaruh di atas tempat sampah. Asli , ini aku nulis sambil emosi banget.
Apakah tempat sampah itu invisible ? sampe mereka ngga bisa masukin tissue tersebut ke dalam nya? Apakah tempat toiletnya gelap sampe mereka nggak menemukan keberadaan tempat sampah dimana? Atau apakah mereka buta karena nggak lihat ada tempat sampah segede gaban di sudut ruangan? Lagi-lagi aku Cuma bisa menarik nafas panjang dan banyak banyak istirgfar. Yaudahlah, mungkin mereka buru-buru sampe nggak sempet ngeluangin waktu 1 detik untuk buka tempa sampah dan masukin sampahnya disana.
Itu baru sekedar sampah. Yang lebih menjijikan lagi adalah air kencing dan kotoran, aku nggak ngerti ya gimana pikiran mereka yang kalau habis kencing langsung pergi gitu aja. Apakah susah untuk menekan tombol siram? Apakah susah buat ngelapin air kencing mereka yang berceceran di sekitaran closet duduk? Men! Plis, ini tuh toilet umum, ya kalau toilet di rumah sih bodoamat. Apakah mereka nggak mikir, setelah mereka make toilet, bakalan ada orang lain juga make, dan apakah mereka nggak kasihan sama orang lain yang jijik ketika mereka masuk toilet dan menemukan kejorokan yang mereka tinggalkan?
Dan aku akhirnya menyimpulkan, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak tahu adab. Manusia egois yang ngerasa kalau mereka itu ngga melakukan kesalahan, orang-orang nggak berpendidikan yang nggak pernah diajarin soal kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Kesimpulannya adalah, orang-orang yang meninggalkan jejak kejorokan di toilet umum adalah orang-orang yang nggak beriman. Aku harap, mereka segera diberi hidayah oleh Allah swt. Amin

Sabtu, 07 Juli 2018

Budak-Budak Smartphone




              Entah sejak kapan aku jadi suka mengobservasi orang, apapun yang terlihat di depan mata pasti aku komentari dalam hati sambil kadang menghela nafas, senyum kecil, atau bahkan ngerasa orang-orang yang aku perhatiin ini perlu dikasihani. Bukan sekali dua kali aku ngelihat orang-orang yang berkumpul, bertatap muka tapi sibuk dengan ponselnya masing-masing. Di kafe, restaurant, ataupun tempat nongkrong aku sering banget melihat sekumpulan orang yang terpaku dengan ponselnya masing-masing.

                Aku juga sering ngelihat pasangan yang saling duduk berhadapan tapi mereka saling nunduk, entah apa yang mereka lakukan sama hp mereka sampai hati mengabaikan orang yang ada di hadapannya yang jelas-jelas harus diajak mengobrol. Saat melihat orang-orang seperti ini, aku Cuma bisa mendecakan lidah sambil mencibir dalam hati. But it’s not my business. Masalahnya, hal ini juga sering aku alami, ketemu dengan orang-orang yang ngajak ketemuan, ngajak makan, ngajak nongkrong tapi setelah ketemu dengan mereka yang mereka lakukan adalah sibuk dengan hp mereka. Aku paling benci dengan orang-orang kaya gini.

                “Eh ketemuan guys, udah lama kita nggak rumpi bareng” That’s a bullshit sentence, karena apa? Dari awal kita ketemuan bahkan sampai berpisah pulang, kalau di presentasikan 20% waktu yang diluangkan buat ngobrol, 50% buat Ngecek hp terus terusan include 30% sibuk bersosial media. Mereka pinter bersosial media tapi bener bener bodoh bersosialisasi dalam kehidupan nyata. Orang tuaku emang nggak pernah dengan lugas mengajari “Kalau lagi ngomong sama orang, dengerin, hargain, jangan sibuk ngelakuin hal lain”. Tapi setidaknya kita diberi otak untuk berpikir kalau mainin hp saat lagi kumpul bareng itu adalah sesuatu yang Annoying, mungkin buat sebagian orang it’s not a big deal.

                Hal ini bikin aku jadi penasaran sebenernya ada apasih di hp mereka, sampe mereka mesti banget ngecekin hape setiap menit. Kayanya jari-jarinya tuh bakalan gatel banget kalau nggak ngecek hp, kayaknya kalau nggak ngecek hp bakalan ada bisnis yang terlewat, bakalan ada pemegang saham yang mencabut saham nya, bakalan ada meeting penting yang fatal banget kalau di lewatkan, bakalan ada uang puluhan juta yang hangus saat nggak ngecek hape barang 5 atau 10 menit pun. Dan pas aku intip diem-diem, yang mereka lakuin hanyalah nontonin Igstory orang, nontonin Status-status nggak penting yang orang-orang buat di whatsapp, atau bahkan ngstalkin akun-akun gossip yang hey!! Itu semua bisa kamu lakuin nanti di rumah, pas kamu tiduran sendirian gabut nggak ada kerjaan, bukan saat kamu ngumpul dengan temen-temen kamu.

                Aku tahu betul rasanya diabaikan waktu lagi jalan, rasanya orang yang duduk di depan kita lebih mementingkan mengecek hp nya sendiri ketimbang ngobrol sama kita. Itu memberi kesan kalau “Mending gue kepoin igstory orang dari pada ngobrol sama lu”. Aku tahu betul rasanya pas aku lagi ngomong dan cerita panjang tapi Mata orang yang aku ajak ngobrol malah fokus ke layar hp, dia ngangguk-ngangguk kaya orang bego padahal nggak mengerti sedikitpun apa yang aku omongin. “Apa? Gimana?” pada akhirnya kalimat-kalimat itu yang sering aku denger setelah panjang lebar bercerita. What the heck, don’t you know how to appreciate someone presence?

                Ngerasain semua hal menyebalkan itu membuatku introspeksi dan do better. Jadi setiap ketemuan sama temen-temen, apalagi temen lama yang jarang banget dan Cuma punya sesekali waktu buat ketemu. Aku selalu simpan hp ku, hidupkan mode silent dan berusaha buat ngobrol banyak, melakukan eye contact dan merespon setiap kata yang dia ucapkan. Apalagi kalau pergi dengan pacarku, aku selalu sengaja matiin data selular supaya tidak ada urusan pekerjaan, atau urusan nggak penting lainnya yang mengganggu ku. When I’m with my precious people I always try to enjoy the moment, aku nggak mau moment liburanku terganggu karena hp. Ada waktunya kapan kita harus ngecek hp, kapan kita harus membalas pesan, kapan kita harus mengurusi urusan kerjaan, kapan kita harus menonton story-story orang lain yang sebenernya nggak penting-penting banget buat di tonton.

                But unfortunately , nggak semua orang mengerti manner. Nggak semua orang mengerti kalau tata karma berbicara dan mengobrol dengan orang lain itu seperti apa. Nggak semua orang menegrti kalau dengan kita menaruh dan mengabaikan hp untuk sejenak, adalah cara kita menghargai orang di depan kita yang lagi berbicara.       
      
                Dan buatku orang-orang yang berkumpul dengan teman-teman nya, tapi diam dalam hening, ketawa saat nonton video lucu di instagram, dan sibuk membalas chatting-chatting orang lain di waktu yang bersamaan adalah orang-orang yang menyedihkan. Mereka nggak lebih dari budak-budak smartphone, yang nggak tahu cara menempatkan diri, They really pitiful people.
               

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...