Seseorang pernah bilang, kalau kita ingin tahu
bagaimana pribadi orang lain lihat toilet rumah nya. Ngga tahu gimana
kebersihan toilet bisa merepresentasikan kepribadian seseroang. Karena memang,
membersihkan toilet adalah hal yang paling malas untuk dilakukan. Tapi lain hal
nya ketika toilet tersebut adalah milik bersama, alias toilet umum. Siapa saja
bisa memakai, siapa aja bisa masuk dan buang kotoran disana. Lantas, siapa yang
harus bertanggung jawab atas kebersihannya?
Kita bicara soal toilet restaurant, tanggung
jawab kebersihan toilet itu mungkin di limpahkan sama pihak cleaning Service restaurant tersebut.
Sehingga kalau toiletnya kotor atau rusak, pelanggan bisa langsung complain ke
pihak restaurant. Oke, sebagai Customer
Service yang juga merangkap agen bersih-bersih perasaan gedek selalu muncul
setiap kali aku nge-cek toilet
restaurant tempat aku kerja. Saat pintu di buka satu kata yang selalu keluar
dari bibirku adalah “Hell!”. Tissue berserakan dimana – mana, air kencing
berceceran di sekitaran closet duduk, air kencing yang kuning pekat dan nggak
di siram, sampai nggak jarang juga aku nemuin “tokai” di closet. Sangat
menjijikan.
Aku mulai mengeluh dan sering menggerutu tiap
kali mengontrol kebersihan toilet. Sampai-sampai sering banget aku mengumpat,
otak mereka dimana sih? Okelah, kalau mereka pikir mau ngotorin toilet itu
adalah hal yang biasa aja, Toh nanti juga bakalan ada yang bersihin. Toh, nanti
juga cleaning service nya bersihin,
kalau bersih terus toiletnya kerja cleaning
service nya apa dong? Gaji mereka juga kan bagian dari upah bersihin
toilet. Hell yeah! It’s not about
cleaning service, dude!
Manusia adalah mahluk yang paling sempurna,
dibandingkan setan, jin, malaikat dan mahluk astral lainnya. Manusia lahir
dengan seperangkat otak di dalem kepalanya, pertanyaanku adalah kenapa masih
ada aja manusia-manusia yang menjadikan otak itu Cuma askesoris isi kepala.
Kenapa masih ada aja manusia yang nggak memfungsikan otak nya dengan baik?.
Jelas-jelas, di sudut toilet sudah tersedia tempat sampah. Dan anak paud juga
tahu kalau tempat sampah adalah sarana untuk membuang sampah. In case toilet, kalau habis make tissue
si tissue tersebut bisa langsung dibuang ke tempat sampah yang udah di
sediakan. Tapi kenapa aku sering banget lihat Tissue berserakan di dekat tempat
sampah, di bawah tempat sampah, bahkan ditaruh di atas tempat sampah. Asli ,
ini aku nulis sambil emosi banget.
Apakah tempat sampah itu invisible ? sampe mereka ngga bisa masukin tissue tersebut ke dalam
nya? Apakah tempat toiletnya gelap sampe mereka nggak menemukan keberadaan
tempat sampah dimana? Atau apakah mereka buta karena nggak lihat ada tempat
sampah segede gaban di sudut ruangan? Lagi-lagi aku Cuma bisa menarik nafas
panjang dan banyak banyak istirgfar. Yaudahlah, mungkin mereka buru-buru sampe
nggak sempet ngeluangin waktu 1 detik untuk buka tempa sampah dan masukin
sampahnya disana.
Itu baru sekedar sampah. Yang lebih menjijikan
lagi adalah air kencing dan kotoran, aku nggak ngerti ya gimana pikiran mereka
yang kalau habis kencing langsung pergi gitu aja. Apakah susah untuk menekan
tombol siram? Apakah susah buat ngelapin air kencing mereka yang berceceran di
sekitaran closet duduk? Men! Plis, ini tuh toilet umum, ya kalau toilet di
rumah sih bodoamat. Apakah mereka nggak mikir, setelah mereka make toilet,
bakalan ada orang lain juga make, dan apakah mereka nggak kasihan sama orang
lain yang jijik ketika mereka masuk toilet dan menemukan kejorokan yang mereka
tinggalkan?
Dan aku akhirnya menyimpulkan, orang-orang
seperti ini adalah orang-orang yang tidak tahu adab. Manusia egois yang ngerasa
kalau mereka itu ngga melakukan kesalahan, orang-orang nggak berpendidikan yang
nggak pernah diajarin soal kebersihan adalah sebagian dari pada iman.
Kesimpulannya adalah, orang-orang yang meninggalkan jejak kejorokan di toilet
umum adalah orang-orang yang nggak beriman. Aku harap, mereka segera diberi
hidayah oleh Allah swt. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar