Rabu, 19 September 2018

Bicara Toilet




Seseorang pernah bilang, kalau kita ingin tahu bagaimana pribadi orang lain lihat toilet rumah nya. Ngga tahu gimana kebersihan toilet bisa merepresentasikan kepribadian seseroang. Karena memang, membersihkan toilet adalah hal yang paling malas untuk dilakukan. Tapi lain hal nya ketika toilet tersebut adalah milik bersama, alias toilet umum. Siapa saja bisa memakai, siapa aja bisa masuk dan buang kotoran disana. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas kebersihannya?
Kita bicara soal toilet restaurant, tanggung jawab kebersihan toilet itu mungkin di limpahkan sama pihak cleaning Service restaurant tersebut. Sehingga kalau toiletnya kotor atau rusak, pelanggan bisa langsung complain ke pihak restaurant. Oke, sebagai Customer Service yang juga merangkap agen bersih-bersih perasaan gedek selalu muncul setiap kali aku nge-cek toilet restaurant tempat aku kerja. Saat pintu di buka satu kata yang selalu keluar dari bibirku adalah “Hell!”. Tissue berserakan dimana – mana, air kencing berceceran di sekitaran closet duduk, air kencing yang kuning pekat dan nggak di siram, sampai nggak jarang juga aku nemuin “tokai” di closet. Sangat menjijikan.
Aku mulai mengeluh dan sering menggerutu tiap kali mengontrol kebersihan toilet. Sampai-sampai sering banget aku mengumpat, otak mereka dimana sih? Okelah, kalau mereka pikir mau ngotorin toilet itu adalah hal yang biasa aja, Toh nanti juga bakalan ada yang bersihin. Toh, nanti juga cleaning service nya bersihin, kalau bersih terus toiletnya kerja cleaning service nya apa dong? Gaji mereka juga kan bagian dari upah bersihin toilet. Hell yeah! It’s not about cleaning service, dude!
Manusia adalah mahluk yang paling sempurna, dibandingkan setan, jin, malaikat dan mahluk astral lainnya. Manusia lahir dengan seperangkat otak di dalem kepalanya, pertanyaanku adalah kenapa masih ada aja manusia-manusia yang menjadikan otak itu Cuma askesoris isi kepala. Kenapa masih ada aja manusia yang nggak memfungsikan otak nya dengan baik?. Jelas-jelas, di sudut toilet sudah tersedia tempat sampah. Dan anak paud juga tahu kalau tempat sampah adalah sarana untuk membuang sampah. In case toilet, kalau habis make tissue si tissue tersebut bisa langsung dibuang ke tempat sampah yang udah di sediakan. Tapi kenapa aku sering banget lihat Tissue berserakan di dekat tempat sampah, di bawah tempat sampah, bahkan ditaruh di atas tempat sampah. Asli , ini aku nulis sambil emosi banget.
Apakah tempat sampah itu invisible ? sampe mereka ngga bisa masukin tissue tersebut ke dalam nya? Apakah tempat toiletnya gelap sampe mereka nggak menemukan keberadaan tempat sampah dimana? Atau apakah mereka buta karena nggak lihat ada tempat sampah segede gaban di sudut ruangan? Lagi-lagi aku Cuma bisa menarik nafas panjang dan banyak banyak istirgfar. Yaudahlah, mungkin mereka buru-buru sampe nggak sempet ngeluangin waktu 1 detik untuk buka tempa sampah dan masukin sampahnya disana.
Itu baru sekedar sampah. Yang lebih menjijikan lagi adalah air kencing dan kotoran, aku nggak ngerti ya gimana pikiran mereka yang kalau habis kencing langsung pergi gitu aja. Apakah susah untuk menekan tombol siram? Apakah susah buat ngelapin air kencing mereka yang berceceran di sekitaran closet duduk? Men! Plis, ini tuh toilet umum, ya kalau toilet di rumah sih bodoamat. Apakah mereka nggak mikir, setelah mereka make toilet, bakalan ada orang lain juga make, dan apakah mereka nggak kasihan sama orang lain yang jijik ketika mereka masuk toilet dan menemukan kejorokan yang mereka tinggalkan?
Dan aku akhirnya menyimpulkan, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak tahu adab. Manusia egois yang ngerasa kalau mereka itu ngga melakukan kesalahan, orang-orang nggak berpendidikan yang nggak pernah diajarin soal kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Kesimpulannya adalah, orang-orang yang meninggalkan jejak kejorokan di toilet umum adalah orang-orang yang nggak beriman. Aku harap, mereka segera diberi hidayah oleh Allah swt. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...