Sabtu, 07 Juli 2018

Budak-Budak Smartphone




              Entah sejak kapan aku jadi suka mengobservasi orang, apapun yang terlihat di depan mata pasti aku komentari dalam hati sambil kadang menghela nafas, senyum kecil, atau bahkan ngerasa orang-orang yang aku perhatiin ini perlu dikasihani. Bukan sekali dua kali aku ngelihat orang-orang yang berkumpul, bertatap muka tapi sibuk dengan ponselnya masing-masing. Di kafe, restaurant, ataupun tempat nongkrong aku sering banget melihat sekumpulan orang yang terpaku dengan ponselnya masing-masing.

                Aku juga sering ngelihat pasangan yang saling duduk berhadapan tapi mereka saling nunduk, entah apa yang mereka lakukan sama hp mereka sampai hati mengabaikan orang yang ada di hadapannya yang jelas-jelas harus diajak mengobrol. Saat melihat orang-orang seperti ini, aku Cuma bisa mendecakan lidah sambil mencibir dalam hati. But it’s not my business. Masalahnya, hal ini juga sering aku alami, ketemu dengan orang-orang yang ngajak ketemuan, ngajak makan, ngajak nongkrong tapi setelah ketemu dengan mereka yang mereka lakukan adalah sibuk dengan hp mereka. Aku paling benci dengan orang-orang kaya gini.

                “Eh ketemuan guys, udah lama kita nggak rumpi bareng” That’s a bullshit sentence, karena apa? Dari awal kita ketemuan bahkan sampai berpisah pulang, kalau di presentasikan 20% waktu yang diluangkan buat ngobrol, 50% buat Ngecek hp terus terusan include 30% sibuk bersosial media. Mereka pinter bersosial media tapi bener bener bodoh bersosialisasi dalam kehidupan nyata. Orang tuaku emang nggak pernah dengan lugas mengajari “Kalau lagi ngomong sama orang, dengerin, hargain, jangan sibuk ngelakuin hal lain”. Tapi setidaknya kita diberi otak untuk berpikir kalau mainin hp saat lagi kumpul bareng itu adalah sesuatu yang Annoying, mungkin buat sebagian orang it’s not a big deal.

                Hal ini bikin aku jadi penasaran sebenernya ada apasih di hp mereka, sampe mereka mesti banget ngecekin hape setiap menit. Kayanya jari-jarinya tuh bakalan gatel banget kalau nggak ngecek hp, kayaknya kalau nggak ngecek hp bakalan ada bisnis yang terlewat, bakalan ada pemegang saham yang mencabut saham nya, bakalan ada meeting penting yang fatal banget kalau di lewatkan, bakalan ada uang puluhan juta yang hangus saat nggak ngecek hape barang 5 atau 10 menit pun. Dan pas aku intip diem-diem, yang mereka lakuin hanyalah nontonin Igstory orang, nontonin Status-status nggak penting yang orang-orang buat di whatsapp, atau bahkan ngstalkin akun-akun gossip yang hey!! Itu semua bisa kamu lakuin nanti di rumah, pas kamu tiduran sendirian gabut nggak ada kerjaan, bukan saat kamu ngumpul dengan temen-temen kamu.

                Aku tahu betul rasanya diabaikan waktu lagi jalan, rasanya orang yang duduk di depan kita lebih mementingkan mengecek hp nya sendiri ketimbang ngobrol sama kita. Itu memberi kesan kalau “Mending gue kepoin igstory orang dari pada ngobrol sama lu”. Aku tahu betul rasanya pas aku lagi ngomong dan cerita panjang tapi Mata orang yang aku ajak ngobrol malah fokus ke layar hp, dia ngangguk-ngangguk kaya orang bego padahal nggak mengerti sedikitpun apa yang aku omongin. “Apa? Gimana?” pada akhirnya kalimat-kalimat itu yang sering aku denger setelah panjang lebar bercerita. What the heck, don’t you know how to appreciate someone presence?

                Ngerasain semua hal menyebalkan itu membuatku introspeksi dan do better. Jadi setiap ketemuan sama temen-temen, apalagi temen lama yang jarang banget dan Cuma punya sesekali waktu buat ketemu. Aku selalu simpan hp ku, hidupkan mode silent dan berusaha buat ngobrol banyak, melakukan eye contact dan merespon setiap kata yang dia ucapkan. Apalagi kalau pergi dengan pacarku, aku selalu sengaja matiin data selular supaya tidak ada urusan pekerjaan, atau urusan nggak penting lainnya yang mengganggu ku. When I’m with my precious people I always try to enjoy the moment, aku nggak mau moment liburanku terganggu karena hp. Ada waktunya kapan kita harus ngecek hp, kapan kita harus membalas pesan, kapan kita harus mengurusi urusan kerjaan, kapan kita harus menonton story-story orang lain yang sebenernya nggak penting-penting banget buat di tonton.

                But unfortunately , nggak semua orang mengerti manner. Nggak semua orang mengerti kalau tata karma berbicara dan mengobrol dengan orang lain itu seperti apa. Nggak semua orang menegrti kalau dengan kita menaruh dan mengabaikan hp untuk sejenak, adalah cara kita menghargai orang di depan kita yang lagi berbicara.       
      
                Dan buatku orang-orang yang berkumpul dengan teman-teman nya, tapi diam dalam hening, ketawa saat nonton video lucu di instagram, dan sibuk membalas chatting-chatting orang lain di waktu yang bersamaan adalah orang-orang yang menyedihkan. Mereka nggak lebih dari budak-budak smartphone, yang nggak tahu cara menempatkan diri, They really pitiful people.
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...