Untuk perempuan yang tengah mengenyam pendidikan
Untuk mahasiswi tingkat akhir yang merasakan lelah nya
revisi skripsi, dan berputus asa lalu ingin menikah saja.
Untuk siapapun yang mengatakan “Buat apa sekolah
tinggi-tinggi? Beli beras pakai uang, bukan pakai ijazah”
Here, I tell you something.
Lucu Rasanya saat masih saja ada orang bermindset sangat
kolot dan bilang “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Perempuan itu ujung nya
dapur, kasur, sumur”. Kalimat itu tidak
100% salah, tidak juga 100% benar.
Menurutku, pendidikan itu penting. Sangat penting,
apalagi untuk perempuan.Terus kalau tidak berpendidikan, kelak anakmu nanya
“Mak, ini rumus phytagoras gimana ya?” Lalu, kamu akan jawab “Aduh nak mama gak
tahu, tahunya cara ngiris bawang dengan simetri aja”. Orang tua itu Madrasah, sekolah pertama untuk anak
ketika lahir ke dunia. Bayangkan kalau orang tuanya minim pendidikan, bagaimana
mereka mau mendidik anak?
Tidak ada yang salah dengan menikah, atau menikah muda.
Silahkan, apalagi dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa menikah adalah ibadah. Dan
rezeki akan lebih dimudahkan setelah menikah. Tapi tunggu dulu, menikah bukan
seperti lari marathon, harus dulu-duluan sampai. Harus menyusul teman yang
sudah terikat dengan halal. Menikah bukan lari estapet, mengoper tongkat.
Setelah bulan lalu temanmu menikah, bulan depan kamu harus menikah? Tidak,
bukan seperti itu.
Menikah itu, bukan Cuma menyatukan dua kepala, dua
ideologi dan dua pemikiran berbeda jadi satu untuk sama-sama mengarungi sebuah
bahtera. Menikah itu menyatukan dua keluarga, dua keluarga yang punya latar
belakang berbeda.
Menikah itu butuh kesiapan, siap mental, fisik, siap
mengambil resiko, dan siap untuk mandiri karena tidak lagi bergantung atau
mengandalkan orang tua.
Seorang perempuan muda yang mentalnya belum siap, yang
fisik nya belum matang, dan organ reproduksinya belum mampu menjalankan
tugasnya dengan baik lalu diharuskan segera menikah? Sama saja seperti merusak
masa depannya. Banyak aspek yang harus di pertimbangkan sebelum menikah, di
pikirkan matang-matang, karena menikah bukan main rumah-rumahan yang kalau
sudah bosan udahan lalu selesai dan bubar.
Berpendidikan itu penting, membentuk karakter,
memberikan wawasan, membuat diri menjadi bertutur kata dan prilaku baik.
Mengupgrade diri menjadi versi terbaik itu penting. Selama masih muda, mencari
dan mendapatkan ilmu itu penting untuk bekal meghadapi segala kemungkinan hidup
yang kadang tak pernah mau sejalan.
Selagi masih muda, apa salah nya berkarya,berkarir, belajar, mendapatkan
banyak teman baru, ilmu baru, dan pengalaman yang membuat kita tumbuh menjadi
sosok yang lebih dewasa.
Soal pasangan? Santai saja, tidak perlu buru-buru. Saat
teman-temanmu mengirim kartu undangan pernikahan, berbahagialah. Berfokus
memantaskan diri saja toh, orang yang tepat akan di pertemukan di waktu yang
tepat juga. Bukankah semuanya sudah diatur yang maha kuasa? Lalu harus
mencemaskan apa?. Seseorang yang berkualitas, akan bertemu dengan jodoh yang
berkualitas juga. Karena yang baik hanyalah untuk orang-orang baik.
Lalu, kalau temanmu terus nanya “Kapan nikah?” Santai
saja dan jawab
“Kalau nggak sabtu, insyallah minggu”
Sekian,Baca nya jangan terlalu serius. Nulisnya juga
sambil santai
Wassalam.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar