Rabu, 19 September 2018

Being Customer Service Be Like



                Terlahir sebagai seseorang yang “moody” membuatku kerepotan mengurusi diri sendiri, kalau sekarang aku sedang senang dan ceria bisa saja tiba-tiba beberapa menit kemudian aku menjadi pendiam dan murung. Apa penyebab nya? Hal hal kecil begitu membuatku sensitive, entahlah aku juga muak dengan diri sendiri karena belum bisa menyingkirkan perasan itu sampai sekarang. Sayangnya pekerjaan yang aku geluti sekarang adalah pekerjaan yang membutuhkan extra kesabaran, senyum cerah walaupun perasaan sedang kalut dan juga nada bicara yang lemah lembut pada setiap orang. Haram hukumnya bagi seorang customer service untuk bermuram durja apalagi berwajah masam.
                Menjadi seorang customer service selama satu tahun ini membuat aku belajar banyak hal tentang manusia, tentang tabiat, perangai, dan juga etika orang-orang yang lahir ke dunia. Dari berbagai pengalaman aku menyimpulkan beberapa tipe manusia walaupun bisa dibilang itu luarnya saja tapi etitude yang mereka tunjukan sudah menjadi representasi bagaimana mereka berperilaku sehari-hari. Observasi di lapangan membuatku menyimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sangat menyebalkan, dan selalu membuatku naik darah. Aku harus lebih belajar lagi mengatur emosi ku agar tidak menampakan wajah kesar pada mereka. “Custumer adalah raja” Oke, aku mengerti kenapa mereka bertingkah seenaknya, mungkin karena doktrin yang sudah di tanamkan sedari dulu. Memang betul, sebuah toko akan hidup oleh adanya pelanggan. Tapi itu tidak menjadikan mereka seharusnya bisa semena- mena pada karyawan nya.
                Customer selalu benar, aku juga heran kenapa aku selalu dibuat seolah-olah salah di mata mereka. Apapun yang mereka katakan rasanya harus selalu benar tidak peduli walaupun itu kebalikannya, dan pada akhirnya aku juga yang harus meminta maaf atas ketidak salahanku. Beberapa dari customer kadang sengaja menjebak dengan memainkan kata-kata, mereka lebih agresif dalam bertanya ini itu dan bahkan hal hal yang bersifat menyudutkan. Ada yang juga tidak tahu malu, mencari diskon besar-besaran dan begitu perhitungan atas segala harga. Hmmmmmm, selain itu yang berwajah sangat masam meskipun sudah kita sapa dengan ramah juga banyak. Tak hanya sampai disitu, aku juga sering dipertemukan dengan customer yang tidak bisa mengontrol emosinya, marah-marah dengan suara tinggi, menunjukan jari nya kepada kami seolah merendahkan, atau bahkan sampai memaki-maki. Well, yang seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku.
                I mean, why you gonna be so rude? Don’t you know I’m human too? Dia manusia, aku juga manusia, kami sama-sama diciptakan tuhan dengan seperangkat hati yang kalau dilukai akan terasa sakit. Hanya karena dia memiliki sedikit uang untuk membeli produk yang kami jual, apakah dia memiliki hak untuk mencaci maki dan merendahkan kami yang bekerja sebagai pegawai? Kalaupun ada kesalahan yang kami lakukan, kenapa tidak dibicarakan baik-baik dengan kepala yang dingin? So, semua kembali pada moral dan Etika. Aku ambil kesimpulan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang yang tidak tahu bagaimana dia harus berperilaku di tempat umum.
                However, nggak semua customer rese dan menyebalkan. Aku juga pernah bertemu beberap customer yang baik, ramah, responsive atas semua yang aku katakana dan juga mengerti bagaimana caranya mengobrol dengan manusia yang sedang bekerja. Rasanya menyenangkan saat serving mereka, karena feedback yang mereka beri padaku juga hangat. Saat aku menyapa, dia berbalik menyapa dan tersenyum. Biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang pintar dan tahu etika, tidak butuh waktu lama dan berbelit belit untuk menjelaskan suatu produk dan juga itung-itungan promo pada mereka. Sayangnya populasi mereka masih terlalu sedikit, dunia masih di dominasi oleh orang – orang yang menyebalkan, dan aku harus setiap hari bertemu dengan orang-orang macam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...