Terlahir sebagai
seseorang yang “moody” membuatku kerepotan mengurusi diri sendiri, kalau
sekarang aku sedang senang dan ceria bisa saja tiba-tiba beberapa menit
kemudian aku menjadi pendiam dan murung. Apa penyebab nya? Hal hal kecil begitu
membuatku sensitive, entahlah aku juga muak dengan diri sendiri karena belum
bisa menyingkirkan perasan itu sampai sekarang. Sayangnya pekerjaan yang aku
geluti sekarang adalah pekerjaan yang membutuhkan extra kesabaran, senyum cerah
walaupun perasaan sedang kalut dan juga nada bicara yang lemah lembut pada
setiap orang. Haram hukumnya bagi seorang customer service untuk bermuram durja
apalagi berwajah masam.
Menjadi seorang
customer service selama satu tahun ini membuat aku belajar banyak hal tentang
manusia, tentang tabiat, perangai, dan juga etika orang-orang yang lahir ke
dunia. Dari berbagai pengalaman aku menyimpulkan beberapa tipe manusia walaupun
bisa dibilang itu luarnya saja tapi etitude yang mereka tunjukan sudah menjadi
representasi bagaimana mereka berperilaku sehari-hari. Observasi di lapangan
membuatku menyimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang
sangat menyebalkan, dan selalu membuatku naik darah. Aku harus lebih belajar
lagi mengatur emosi ku agar tidak menampakan wajah kesar pada mereka. “Custumer
adalah raja” Oke, aku mengerti kenapa mereka bertingkah seenaknya, mungkin
karena doktrin yang sudah di tanamkan sedari dulu. Memang betul, sebuah toko
akan hidup oleh adanya pelanggan. Tapi itu tidak menjadikan mereka seharusnya
bisa semena- mena pada karyawan nya.
Customer selalu
benar, aku juga heran kenapa aku selalu dibuat seolah-olah salah di mata
mereka. Apapun yang mereka katakan rasanya harus selalu benar tidak peduli
walaupun itu kebalikannya, dan pada akhirnya aku juga yang harus meminta maaf
atas ketidak salahanku. Beberapa dari customer kadang sengaja menjebak dengan
memainkan kata-kata, mereka lebih agresif dalam bertanya ini itu dan bahkan hal
hal yang bersifat menyudutkan. Ada yang juga tidak tahu malu, mencari diskon
besar-besaran dan begitu perhitungan atas segala harga. Hmmmmmm, selain itu
yang berwajah sangat masam meskipun sudah kita sapa dengan ramah juga banyak.
Tak hanya sampai disitu, aku juga sering dipertemukan dengan customer yang tidak
bisa mengontrol emosinya, marah-marah dengan suara tinggi, menunjukan jari nya
kepada kami seolah merendahkan, atau bahkan sampai memaki-maki. Well, yang
seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku.
I mean, why you
gonna be so rude? Don’t you know I’m human too? Dia manusia, aku juga manusia,
kami sama-sama diciptakan tuhan dengan seperangkat hati yang kalau dilukai akan
terasa sakit. Hanya karena dia memiliki sedikit uang untuk membeli produk yang
kami jual, apakah dia memiliki hak untuk mencaci maki dan merendahkan kami yang
bekerja sebagai pegawai? Kalaupun ada kesalahan yang kami lakukan, kenapa tidak
dibicarakan baik-baik dengan kepala yang dingin? So, semua kembali pada moral
dan Etika. Aku ambil kesimpulan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang yang
tidak tahu bagaimana dia harus berperilaku di tempat umum.
However, nggak
semua customer rese dan menyebalkan. Aku juga pernah bertemu beberap customer
yang baik, ramah, responsive atas semua yang aku katakana dan juga mengerti
bagaimana caranya mengobrol dengan manusia yang sedang bekerja. Rasanya
menyenangkan saat serving mereka,
karena feedback yang mereka beri padaku juga hangat. Saat aku menyapa, dia
berbalik menyapa dan tersenyum. Biasanya orang-orang seperti ini adalah
orang-orang yang pintar dan tahu etika, tidak butuh waktu lama dan berbelit
belit untuk menjelaskan suatu produk dan juga itung-itungan promo pada mereka.
Sayangnya populasi mereka masih terlalu sedikit, dunia masih di dominasi oleh
orang – orang yang menyebalkan, dan aku harus setiap hari bertemu dengan
orang-orang macam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar