Rabu, 19 September 2018

Body Critizm




Kalau semua manusia bisa meminta sama Tuhan Yang Maha Kuasa soal bagaimana bentuk tubuh mereka, tentu aja di dunia ini nggak akan ada si Tinggi yang menghina si pendek, si Hidung mancung yang menghinda si pesek, si kulit putih yang menghina si kulit hitam, si mata belo yang menghina si sipt , atau si rambut lurus yang menghina si rambut keriting.
Menurutku orang-orang yang mengkritik bentuk ciptaan Tuhan adalah orang-orang yang nggak sadar bahwa dirinya juga hanya seorang mahluk yang nggak berdaya, padahal bentuk tubuh dia juga Tuhan yang menciptakan. Lantas berhak apa dia dalam mengkritik? Toh dia juga pasti nggak akan bisa menciptakan bentuk se-sempurna yang Tuhan ciptakan.
Kritik emang sesuatu yang bagus , kritik yang bertujuan untuk menjadikan seseorang lebih baik. Tapi menurutku ada beberapa kritik yang pada akhirnya malah jadi hal yang nggak berguna, dan walaupun kamu mengkritik yang ada malah menimbulkan rasa sakit hati.  Misal saja ketika ada seseorang yang memasak dan rasanya terlalu asin, lalu kamu kritik dan dia bisa memperbaiki masakannya mengurangi takaran garam yang dia pakai sehingga bisa lebih layak makan. Lain cerita kalau kamu mengkritik bentuk tubuh seseorang, apa yang akan kamu dapat?
“Kulit kamu hitam banget sih?” Kalau dari lahir dia memang sudah berwarna gelap bagaimana? Kalau gen yang diturunkan oleh orang tuanya memang sudah berwarna gelap bagaimana? Hanya karena kamu berkulit lebih cerah bukan berarti kamu punya hak untuk mengatai orang yang warna kulitnya tidak secerah kamu, apalagi dengan melontarkan guyonan seperti “Si Hitam” mungkin bagi kamu itu lucu atau terkesan biasa saja, tapi bagi orang yang mendengarnya?
“Dasar pendek, gendut!” Kalau dia memang di takdirkan untuk berbentuk tubuh seperti itu lantas kamu bisa apa? Kalau dia sudah berusaha untuk olahraga untuk menjadi setinggi kamu atau sekurus kamu dan pada akhirya berhasil nihil karena genetic keluarganya yang memang berpostur tubuh pendek dan gendut kamu bisa apa?
“Itu hidung kamu kemana? Kok pesek?” Hanya karena tulang hidung kamu lebih Nampak dari pada punya nya, bukan berarti kamu memiliki hak untuk memberikan hinaan seperti itu. Lantas kalau dia punya hidung yang pesek dan kamu mengkritiknya apa yang akan kamu inginkan darinya? Kamu ingin agar dia pergi ke dokter dan melakukan operasi agar dia punya hidung seperti kamu?
Pada dasarnya manusia memang mahluk penilai, apa yang terlihat oleh matanya selalu jadi penilaian bahkan sampai lupa dengan yang namanya bercermin. Manusia terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain, mengkritiknya, memperbincangkannya, bahkan lebih parah lagi menghina nya. Menurutku menghina bentuk tubuh manusia baik itu matanya, jidatnya, hidungnya, kakinya atau apapun yang ada pada tubuhnya sama saja seperti kamu menghina sang Pencipta nya. Seolah Seolah kamulah pemilik tubuh paling sempurna di dunia ini, seolah- olah kamulah yang paling bagus di ciptakan oleh Tuhan. Dan menurutku mengkritik bentuk tubuh manusia yang tidak se bagus punya mu adalah hal yang sangat tidak berguna. Dan hanya orang-orang yang tidak tahu diri yang bercanda dengan bentuk fisik manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...