Rabu, 19 September 2018

Body Critizm




Kalau semua manusia bisa meminta sama Tuhan Yang Maha Kuasa soal bagaimana bentuk tubuh mereka, tentu aja di dunia ini nggak akan ada si Tinggi yang menghina si pendek, si Hidung mancung yang menghinda si pesek, si kulit putih yang menghina si kulit hitam, si mata belo yang menghina si sipt , atau si rambut lurus yang menghina si rambut keriting.
Menurutku orang-orang yang mengkritik bentuk ciptaan Tuhan adalah orang-orang yang nggak sadar bahwa dirinya juga hanya seorang mahluk yang nggak berdaya, padahal bentuk tubuh dia juga Tuhan yang menciptakan. Lantas berhak apa dia dalam mengkritik? Toh dia juga pasti nggak akan bisa menciptakan bentuk se-sempurna yang Tuhan ciptakan.
Kritik emang sesuatu yang bagus , kritik yang bertujuan untuk menjadikan seseorang lebih baik. Tapi menurutku ada beberapa kritik yang pada akhirnya malah jadi hal yang nggak berguna, dan walaupun kamu mengkritik yang ada malah menimbulkan rasa sakit hati.  Misal saja ketika ada seseorang yang memasak dan rasanya terlalu asin, lalu kamu kritik dan dia bisa memperbaiki masakannya mengurangi takaran garam yang dia pakai sehingga bisa lebih layak makan. Lain cerita kalau kamu mengkritik bentuk tubuh seseorang, apa yang akan kamu dapat?
“Kulit kamu hitam banget sih?” Kalau dari lahir dia memang sudah berwarna gelap bagaimana? Kalau gen yang diturunkan oleh orang tuanya memang sudah berwarna gelap bagaimana? Hanya karena kamu berkulit lebih cerah bukan berarti kamu punya hak untuk mengatai orang yang warna kulitnya tidak secerah kamu, apalagi dengan melontarkan guyonan seperti “Si Hitam” mungkin bagi kamu itu lucu atau terkesan biasa saja, tapi bagi orang yang mendengarnya?
“Dasar pendek, gendut!” Kalau dia memang di takdirkan untuk berbentuk tubuh seperti itu lantas kamu bisa apa? Kalau dia sudah berusaha untuk olahraga untuk menjadi setinggi kamu atau sekurus kamu dan pada akhirya berhasil nihil karena genetic keluarganya yang memang berpostur tubuh pendek dan gendut kamu bisa apa?
“Itu hidung kamu kemana? Kok pesek?” Hanya karena tulang hidung kamu lebih Nampak dari pada punya nya, bukan berarti kamu memiliki hak untuk memberikan hinaan seperti itu. Lantas kalau dia punya hidung yang pesek dan kamu mengkritiknya apa yang akan kamu inginkan darinya? Kamu ingin agar dia pergi ke dokter dan melakukan operasi agar dia punya hidung seperti kamu?
Pada dasarnya manusia memang mahluk penilai, apa yang terlihat oleh matanya selalu jadi penilaian bahkan sampai lupa dengan yang namanya bercermin. Manusia terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain, mengkritiknya, memperbincangkannya, bahkan lebih parah lagi menghina nya. Menurutku menghina bentuk tubuh manusia baik itu matanya, jidatnya, hidungnya, kakinya atau apapun yang ada pada tubuhnya sama saja seperti kamu menghina sang Pencipta nya. Seolah Seolah kamulah pemilik tubuh paling sempurna di dunia ini, seolah- olah kamulah yang paling bagus di ciptakan oleh Tuhan. Dan menurutku mengkritik bentuk tubuh manusia yang tidak se bagus punya mu adalah hal yang sangat tidak berguna. Dan hanya orang-orang yang tidak tahu diri yang bercanda dengan bentuk fisik manusia.


Bertutur Kata Di Dunia Maya




            Beberapa hari yang lalu aku baru saja mengalami yang namanya di bash oleh sebuah akun annonim di instagram. Semuanya berawal saat aku iseng-iseng ngelkik explore dan nemu sebuah akun yang khusus membahas drama korea, yup! I really love drama korea dan disana diberitakan soal drama korea Why Secretary Kim yang berhasil mendapatkan ratting tertinggi sebagai salah satu drama yang mejeng di tv kabel. Selanjutnya aku melihat sebuah komentar yang dilontarkan oleh sebuah akun anonym, namanya ngga jelas, foto profil nya pun nggak jelas, disana juga nggak ada postingan poto atau apapun. Selebihnya aku simpulkan bahwa orang ini sengaja buat akun anonym yang bertujuan untuk menghujat dan juga menyebarkan hate speech dimana mana.
            Disana dia melontarkan komentar yang sama sekali nggak relatable dengan topic yang lagi di bahas sama akun tersebut. “Aku penasaran gimana nanti kalau Park Minyoung (nama pemeran utama wanita di drama Why Secretary kim) kalau punya anak, secara muka dia kan operasi plastic , dia rahang aslinya peyot sedangkan kalau gen nggak bisa di bohongi. Nanti pasti suami nya kecewa kalau anak mereka jadi jelek karena ibunya sudah melakukan operasi plastik sejak remaja”
Well, sebagai orang waras yang pertama terbesit di benak ku adalah “What the heck?” , Lantas aku membalas komentar dia “Penting banget ya ngurusin hidup orang? Penting banget mikirin nanti anak nya Park Minyoung bakalan kaya gimana muka nya? Kaya nggak ada hal penting lain aja dihidupmu buat dipikirin, so pitiful”
Nah, seinget ku. Aku sama sekali nggak melontarkan kalimat kasar maupun kalimat hujatan ke orang itu, tapi aku sangat kaget pas dapet balesan komentar dari dia.
Y ague kan Cuma nanya aja monyet, gue nanya nanti anak nya Park Minyoung mukanya bakalan kaya gimana dasar gagal paham lu monyet”
Oke, untuk sejenak aku diem, lama-lama emosi ku ikut tersulut ya wajar kan? Namanya juga manusia, dari lubuk hati yang paling dalem aku sama sekali nggak terima kalau sebutan “Monyet” itu dilontarkan. Tapi walau bagaimanapun aku mencoba untuk tidak membalas hujatan dia dengan bahasa kasar.
Wow, udah pemikirannya sempit bahasanya kotor lagi, pantesan aja”  Cuma itu yang aku balas, tiba-tiba dia melakukan personal attack. Aku yakin dia menglkik profil ku, untung saja waktu itu instagramku dalam keadaan privat.
Dari pada lo sok baik, berjilbab tapi peluk peluk yang bukan muhrim dasar munafik”
See? Aku ngga ngerti gimana orang ini berpikiran, profil instagram ku memang lagi berdua sama pacarku. Oke , aku akan bahas masalah ini di postingan lain, sekarang yang aku ingin soroti adalah what’s wrong with this person?
Setelah aku amati ternyata dia memang memanggil semua orang yang membalas komentar nggak penting dia dengan sebutan monyet, anjing, bego, sampah dan kata-kata nggak pantas lainnya. Aku lihat juga komentar yang dia posting sungguh-sungguh ngaco, out of topic dan sama sekali nggak bermutu. Aku yakin, bukan aku satu-satunya orang yang dihujat dan dibikin kesel sama akun anonym ini.
Pertama ini orang sangat nggak jelas, dia ngomentarin soal Park Minyoung yang melakukan operasi plastic. Emang udah nggak aneh sih kalau non kpop atau Hatters kpop selalu ngata-ngatain “plastic” . First of all. Don’t you know ? kalau operasi plastik di korea sana udah jadi budaya, bukan hal aneh, bukan hal tabu ataupun aib. Toh orang tua aja ada yang menghadiahkan anak nya operasi plastik pas masuk ulang tahun ke 17. See? Mestinya orang ini tahu budaya mereka seperti apa sebelum menghujat.
Kedua, dari semua hujatan operasi plastik yang pernah aku denger, ini adalah yang paling cringe. Gila nggak sih? Sampe banget ini orang mikirin anak nya Park Minyoung bentuk mukanya bakalan kayak apa? Serius, harusnya dia mikirin gimana nanti anaknya bakalan tumbuh kalau omongan orang tuanya macem sampah kaya gitu.
Ketiga, Omongan omongannya tuh bener-bener out of topic banget . Base lagi ngomongin ratting drama, lalu orang ini ngebahas operasi plastik ? okelah aku paham kalau emang artis-artis korea itu identik sama operasi plastik, tapi aku rasa dia ada di lapak yang salah untuk mengemukakan pendapat nggak penting nya itu.
Setelah aku pikir-pikir, kayanya ini orang emang segaja bersembunyi dibalik akun anonym nya. Secara dia bebas ngeluarin kata-kata kotor tanpa peduli dengan image dirinya nanti. Mungkin dia ketawa terbahak-bahak saat banyak orang yang merespon komentar bodohnya, tapi sekali lagi sebagai manusia normal aku berpikir “Biar apa?”
Hanya karena menggunakan akun anonym dan nggak ada yang tahu siapa identitas dibalik akun tersebut, bukan berarti seseorang bisa bertakata seenaknya. Hanya karena di dunia maya dan kesempatan untuk ketemu di dunia nyata adalah kecil, bukan berarti setiap orang punya kebebasan untuk mencaci maki. Hanya karena nggak suka dengan seseorang bukan berarti orang itu pantas untuk menerima hujatan. Dan alasan “suka suka gue, hape hape gue, kuota – kuota gue, terserah gue mau ngomong apa” adalah hal terbodoh yang seharusnya nggak di pelihara. Pemikiran sempit macem gitu yang bikin manusia jadi nggak memfungsikan hatinya.
Seseorang lahir ke dunia ini bukan untuk di hujat, bukan buat di kata-katain, bukan buat di bikin sakit hati dengan makian yang dilontarkan di dunia maya. Apapun perbuatannya, itu urusan dia dengan tuhan. And who are you to jugde?
Dan seperti yang dia bilang, mungkin aku emang munafik. Tapi setidaknya aku tahu cara bertutur kata, aku tahu cara menghargai orang lain, cara menjaga perasaan orang lain, dan aku tahu etika berinteraksi dengan orang lain baik di dunia nyata maupun di dunia nyata.
Tapi sayang, nggak semua orang tahu itu
Nggak semua orang tahu tata cara bertutur kata




Tidak Ada Tempat Untuk Si buruk Rupa


                Kompeten, penuh tanggung jawab, professional tapi jelek, jangan harap bisa di hargai. Kata siapa?
Emang kita ga pernah bisa menutup mata sama society di Indonesia yang apa-apa tuh di ukur dari look nya. Seberapa qualified nya kamu di dunia kerja, kalau kamu punya wajah yang jelek jangan harap dunia bakal mengapresiasi potensi yang kamu punya. I don’t how it’s work, seems like everybody just want to have a beauty partner.
                Kalau kualifikasi utamanya adalah khusus untuk orang cantik dengan tubuh yang ideal, lalu dimana kami para kentang? Apakah orang-orang jelek seperti kami tidak berhak untuk mendapatkan pekerjaan? Apakah kami yang sudah bekerja keras tidak berhak untuk mendapatkan pengakuan? What the heck with people, Body shaming masih selalu mengakar dan sulit untuk di hilangkan.
                Kalau semua celah pekerjaan hanya di peruntukan bagi orang-orang yang terlahir dengan wajah cantik, lalu kami yang sudah di ciptakan dengan wajah pas-pasan harus bagaimana?

Being Customer Service Be Like



                Terlahir sebagai seseorang yang “moody” membuatku kerepotan mengurusi diri sendiri, kalau sekarang aku sedang senang dan ceria bisa saja tiba-tiba beberapa menit kemudian aku menjadi pendiam dan murung. Apa penyebab nya? Hal hal kecil begitu membuatku sensitive, entahlah aku juga muak dengan diri sendiri karena belum bisa menyingkirkan perasan itu sampai sekarang. Sayangnya pekerjaan yang aku geluti sekarang adalah pekerjaan yang membutuhkan extra kesabaran, senyum cerah walaupun perasaan sedang kalut dan juga nada bicara yang lemah lembut pada setiap orang. Haram hukumnya bagi seorang customer service untuk bermuram durja apalagi berwajah masam.
                Menjadi seorang customer service selama satu tahun ini membuat aku belajar banyak hal tentang manusia, tentang tabiat, perangai, dan juga etika orang-orang yang lahir ke dunia. Dari berbagai pengalaman aku menyimpulkan beberapa tipe manusia walaupun bisa dibilang itu luarnya saja tapi etitude yang mereka tunjukan sudah menjadi representasi bagaimana mereka berperilaku sehari-hari. Observasi di lapangan membuatku menyimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sangat menyebalkan, dan selalu membuatku naik darah. Aku harus lebih belajar lagi mengatur emosi ku agar tidak menampakan wajah kesar pada mereka. “Custumer adalah raja” Oke, aku mengerti kenapa mereka bertingkah seenaknya, mungkin karena doktrin yang sudah di tanamkan sedari dulu. Memang betul, sebuah toko akan hidup oleh adanya pelanggan. Tapi itu tidak menjadikan mereka seharusnya bisa semena- mena pada karyawan nya.
                Customer selalu benar, aku juga heran kenapa aku selalu dibuat seolah-olah salah di mata mereka. Apapun yang mereka katakan rasanya harus selalu benar tidak peduli walaupun itu kebalikannya, dan pada akhirnya aku juga yang harus meminta maaf atas ketidak salahanku. Beberapa dari customer kadang sengaja menjebak dengan memainkan kata-kata, mereka lebih agresif dalam bertanya ini itu dan bahkan hal hal yang bersifat menyudutkan. Ada yang juga tidak tahu malu, mencari diskon besar-besaran dan begitu perhitungan atas segala harga. Hmmmmmm, selain itu yang berwajah sangat masam meskipun sudah kita sapa dengan ramah juga banyak. Tak hanya sampai disitu, aku juga sering dipertemukan dengan customer yang tidak bisa mengontrol emosinya, marah-marah dengan suara tinggi, menunjukan jari nya kepada kami seolah merendahkan, atau bahkan sampai memaki-maki. Well, yang seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku.
                I mean, why you gonna be so rude? Don’t you know I’m human too? Dia manusia, aku juga manusia, kami sama-sama diciptakan tuhan dengan seperangkat hati yang kalau dilukai akan terasa sakit. Hanya karena dia memiliki sedikit uang untuk membeli produk yang kami jual, apakah dia memiliki hak untuk mencaci maki dan merendahkan kami yang bekerja sebagai pegawai? Kalaupun ada kesalahan yang kami lakukan, kenapa tidak dibicarakan baik-baik dengan kepala yang dingin? So, semua kembali pada moral dan Etika. Aku ambil kesimpulan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang yang tidak tahu bagaimana dia harus berperilaku di tempat umum.
                However, nggak semua customer rese dan menyebalkan. Aku juga pernah bertemu beberap customer yang baik, ramah, responsive atas semua yang aku katakana dan juga mengerti bagaimana caranya mengobrol dengan manusia yang sedang bekerja. Rasanya menyenangkan saat serving mereka, karena feedback yang mereka beri padaku juga hangat. Saat aku menyapa, dia berbalik menyapa dan tersenyum. Biasanya orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang pintar dan tahu etika, tidak butuh waktu lama dan berbelit belit untuk menjelaskan suatu produk dan juga itung-itungan promo pada mereka. Sayangnya populasi mereka masih terlalu sedikit, dunia masih di dominasi oleh orang – orang yang menyebalkan, dan aku harus setiap hari bertemu dengan orang-orang macam itu.

Bicara Toilet




Seseorang pernah bilang, kalau kita ingin tahu bagaimana pribadi orang lain lihat toilet rumah nya. Ngga tahu gimana kebersihan toilet bisa merepresentasikan kepribadian seseroang. Karena memang, membersihkan toilet adalah hal yang paling malas untuk dilakukan. Tapi lain hal nya ketika toilet tersebut adalah milik bersama, alias toilet umum. Siapa saja bisa memakai, siapa aja bisa masuk dan buang kotoran disana. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas kebersihannya?
Kita bicara soal toilet restaurant, tanggung jawab kebersihan toilet itu mungkin di limpahkan sama pihak cleaning Service restaurant tersebut. Sehingga kalau toiletnya kotor atau rusak, pelanggan bisa langsung complain ke pihak restaurant. Oke, sebagai Customer Service yang juga merangkap agen bersih-bersih perasaan gedek selalu muncul setiap kali aku nge-cek toilet restaurant tempat aku kerja. Saat pintu di buka satu kata yang selalu keluar dari bibirku adalah “Hell!”. Tissue berserakan dimana – mana, air kencing berceceran di sekitaran closet duduk, air kencing yang kuning pekat dan nggak di siram, sampai nggak jarang juga aku nemuin “tokai” di closet. Sangat menjijikan.
Aku mulai mengeluh dan sering menggerutu tiap kali mengontrol kebersihan toilet. Sampai-sampai sering banget aku mengumpat, otak mereka dimana sih? Okelah, kalau mereka pikir mau ngotorin toilet itu adalah hal yang biasa aja, Toh nanti juga bakalan ada yang bersihin. Toh, nanti juga cleaning service nya bersihin, kalau bersih terus toiletnya kerja cleaning service nya apa dong? Gaji mereka juga kan bagian dari upah bersihin toilet. Hell yeah! It’s not about cleaning service, dude!
Manusia adalah mahluk yang paling sempurna, dibandingkan setan, jin, malaikat dan mahluk astral lainnya. Manusia lahir dengan seperangkat otak di dalem kepalanya, pertanyaanku adalah kenapa masih ada aja manusia-manusia yang menjadikan otak itu Cuma askesoris isi kepala. Kenapa masih ada aja manusia yang nggak memfungsikan otak nya dengan baik?. Jelas-jelas, di sudut toilet sudah tersedia tempat sampah. Dan anak paud juga tahu kalau tempat sampah adalah sarana untuk membuang sampah. In case toilet, kalau habis make tissue si tissue tersebut bisa langsung dibuang ke tempat sampah yang udah di sediakan. Tapi kenapa aku sering banget lihat Tissue berserakan di dekat tempat sampah, di bawah tempat sampah, bahkan ditaruh di atas tempat sampah. Asli , ini aku nulis sambil emosi banget.
Apakah tempat sampah itu invisible ? sampe mereka ngga bisa masukin tissue tersebut ke dalam nya? Apakah tempat toiletnya gelap sampe mereka nggak menemukan keberadaan tempat sampah dimana? Atau apakah mereka buta karena nggak lihat ada tempat sampah segede gaban di sudut ruangan? Lagi-lagi aku Cuma bisa menarik nafas panjang dan banyak banyak istirgfar. Yaudahlah, mungkin mereka buru-buru sampe nggak sempet ngeluangin waktu 1 detik untuk buka tempa sampah dan masukin sampahnya disana.
Itu baru sekedar sampah. Yang lebih menjijikan lagi adalah air kencing dan kotoran, aku nggak ngerti ya gimana pikiran mereka yang kalau habis kencing langsung pergi gitu aja. Apakah susah untuk menekan tombol siram? Apakah susah buat ngelapin air kencing mereka yang berceceran di sekitaran closet duduk? Men! Plis, ini tuh toilet umum, ya kalau toilet di rumah sih bodoamat. Apakah mereka nggak mikir, setelah mereka make toilet, bakalan ada orang lain juga make, dan apakah mereka nggak kasihan sama orang lain yang jijik ketika mereka masuk toilet dan menemukan kejorokan yang mereka tinggalkan?
Dan aku akhirnya menyimpulkan, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak tahu adab. Manusia egois yang ngerasa kalau mereka itu ngga melakukan kesalahan, orang-orang nggak berpendidikan yang nggak pernah diajarin soal kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Kesimpulannya adalah, orang-orang yang meninggalkan jejak kejorokan di toilet umum adalah orang-orang yang nggak beriman. Aku harap, mereka segera diberi hidayah oleh Allah swt. Amin

Sabtu, 07 Juli 2018

Budak-Budak Smartphone




              Entah sejak kapan aku jadi suka mengobservasi orang, apapun yang terlihat di depan mata pasti aku komentari dalam hati sambil kadang menghela nafas, senyum kecil, atau bahkan ngerasa orang-orang yang aku perhatiin ini perlu dikasihani. Bukan sekali dua kali aku ngelihat orang-orang yang berkumpul, bertatap muka tapi sibuk dengan ponselnya masing-masing. Di kafe, restaurant, ataupun tempat nongkrong aku sering banget melihat sekumpulan orang yang terpaku dengan ponselnya masing-masing.

                Aku juga sering ngelihat pasangan yang saling duduk berhadapan tapi mereka saling nunduk, entah apa yang mereka lakukan sama hp mereka sampai hati mengabaikan orang yang ada di hadapannya yang jelas-jelas harus diajak mengobrol. Saat melihat orang-orang seperti ini, aku Cuma bisa mendecakan lidah sambil mencibir dalam hati. But it’s not my business. Masalahnya, hal ini juga sering aku alami, ketemu dengan orang-orang yang ngajak ketemuan, ngajak makan, ngajak nongkrong tapi setelah ketemu dengan mereka yang mereka lakukan adalah sibuk dengan hp mereka. Aku paling benci dengan orang-orang kaya gini.

                “Eh ketemuan guys, udah lama kita nggak rumpi bareng” That’s a bullshit sentence, karena apa? Dari awal kita ketemuan bahkan sampai berpisah pulang, kalau di presentasikan 20% waktu yang diluangkan buat ngobrol, 50% buat Ngecek hp terus terusan include 30% sibuk bersosial media. Mereka pinter bersosial media tapi bener bener bodoh bersosialisasi dalam kehidupan nyata. Orang tuaku emang nggak pernah dengan lugas mengajari “Kalau lagi ngomong sama orang, dengerin, hargain, jangan sibuk ngelakuin hal lain”. Tapi setidaknya kita diberi otak untuk berpikir kalau mainin hp saat lagi kumpul bareng itu adalah sesuatu yang Annoying, mungkin buat sebagian orang it’s not a big deal.

                Hal ini bikin aku jadi penasaran sebenernya ada apasih di hp mereka, sampe mereka mesti banget ngecekin hape setiap menit. Kayanya jari-jarinya tuh bakalan gatel banget kalau nggak ngecek hp, kayaknya kalau nggak ngecek hp bakalan ada bisnis yang terlewat, bakalan ada pemegang saham yang mencabut saham nya, bakalan ada meeting penting yang fatal banget kalau di lewatkan, bakalan ada uang puluhan juta yang hangus saat nggak ngecek hape barang 5 atau 10 menit pun. Dan pas aku intip diem-diem, yang mereka lakuin hanyalah nontonin Igstory orang, nontonin Status-status nggak penting yang orang-orang buat di whatsapp, atau bahkan ngstalkin akun-akun gossip yang hey!! Itu semua bisa kamu lakuin nanti di rumah, pas kamu tiduran sendirian gabut nggak ada kerjaan, bukan saat kamu ngumpul dengan temen-temen kamu.

                Aku tahu betul rasanya diabaikan waktu lagi jalan, rasanya orang yang duduk di depan kita lebih mementingkan mengecek hp nya sendiri ketimbang ngobrol sama kita. Itu memberi kesan kalau “Mending gue kepoin igstory orang dari pada ngobrol sama lu”. Aku tahu betul rasanya pas aku lagi ngomong dan cerita panjang tapi Mata orang yang aku ajak ngobrol malah fokus ke layar hp, dia ngangguk-ngangguk kaya orang bego padahal nggak mengerti sedikitpun apa yang aku omongin. “Apa? Gimana?” pada akhirnya kalimat-kalimat itu yang sering aku denger setelah panjang lebar bercerita. What the heck, don’t you know how to appreciate someone presence?

                Ngerasain semua hal menyebalkan itu membuatku introspeksi dan do better. Jadi setiap ketemuan sama temen-temen, apalagi temen lama yang jarang banget dan Cuma punya sesekali waktu buat ketemu. Aku selalu simpan hp ku, hidupkan mode silent dan berusaha buat ngobrol banyak, melakukan eye contact dan merespon setiap kata yang dia ucapkan. Apalagi kalau pergi dengan pacarku, aku selalu sengaja matiin data selular supaya tidak ada urusan pekerjaan, atau urusan nggak penting lainnya yang mengganggu ku. When I’m with my precious people I always try to enjoy the moment, aku nggak mau moment liburanku terganggu karena hp. Ada waktunya kapan kita harus ngecek hp, kapan kita harus membalas pesan, kapan kita harus mengurusi urusan kerjaan, kapan kita harus menonton story-story orang lain yang sebenernya nggak penting-penting banget buat di tonton.

                But unfortunately , nggak semua orang mengerti manner. Nggak semua orang mengerti kalau tata karma berbicara dan mengobrol dengan orang lain itu seperti apa. Nggak semua orang menegrti kalau dengan kita menaruh dan mengabaikan hp untuk sejenak, adalah cara kita menghargai orang di depan kita yang lagi berbicara.       
      
                Dan buatku orang-orang yang berkumpul dengan teman-teman nya, tapi diam dalam hening, ketawa saat nonton video lucu di instagram, dan sibuk membalas chatting-chatting orang lain di waktu yang bersamaan adalah orang-orang yang menyedihkan. Mereka nggak lebih dari budak-budak smartphone, yang nggak tahu cara menempatkan diri, They really pitiful people.
               

Minggu, 20 Mei 2018

Ujian dan kemunafikan



          Akhir- akhir ini aku jadi sangat jobless , maklum nasib seorang partime yang tidak bisa bekerja Fullshift seperti pekerja normal lainnya. Saat punya banyak waktu luang kadang aku merasa sangat bosan dan merindukan kesibukan, aku tidak terbiasa berdiam diri dan terkurung di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun. Berbaring dikasur, merenung, memikirkan hal yang seharus nya tidak perlu aku pikirkan. Menonton drama, merasa bosan, berjalan kesana kemari dan tidak tahu harus mengisi waktuku dengan apa. Akhirnya, tiba-tiba aku teringat bahwa sebentar lagi ujian akhir semester akan tiba dan juga banyak tugas kampus yang belum ku selesaikan.
          Aku tidak pernah se-semangat ini dalam belajar. Sebentar, jika ku pikir lagi aku memang pernah sangat antusias dalam belajar dan bertekad mendapatkan nilai yang sempurna. Seiring berjalannya waktu semangat itu luntur oleh berbagai faktor, dan sekarang aku mencoba kembali membangkitkan keinginanku untuk belajar. Meskipun rasanya berat tapi aku kembali mencoba membuka buku catatanku, mencari dan menulis ulang materi yang pernah ku pelajari selama di kelas. Sering kali aku merasa kesal dan meyesal setiap berhadapan dengan kertas ujian, aku marah pada diriku sendiri karena tidak pernah memanfaatkan waktu untuk belajar sehingga aku harus melakukan hal curang demi bisa mengisi lembar jawaban ujian.
          Saat ujian adalah saat saat yang menjengkelkan, aku terbiasa dengan system kebut semalam, bayangkan saja dalam semalam aku harus menjejali otakku dengan 3 mata kuliah yang akan diuji besok harinya. Aku merasa sangat lelah dan ingin segera berakhir. Yang lebih menjengkelkan nya lagi, mahasiswa dikelasku selalu datang paling awal berebut kursi untuk bisa duduk dipaling belakang. Tahu sendiri, di belakang kita bebas untuk berbuat curang entah itu melihat catatan yang diselipkan di kertas ujian, mencari jawaban di google atau sekedar mencontek pekerjaan teman sebelah. Dan sialnya , 3 tahun berturut turut aku selalu kehabisan bangku belakang dan duduk di depan, di dekat pengawasan dosen meski pernah sesekali merasakan duduk di belakang.
          Kiri dan kanan ku melakukan hal curang secara diam-diam, mereka seolah tidak peduli dengan tatapan teman-teman yang lain. Toh, orang orang juga melakukan hal yang sama. Ketika kebingungan mendapatkan jawaban, aku rehat sejenak dan menoleh ke belakang ku lihat hampir semua orang yang duduk di belakang menundukan kepala mereka sembari berjaga-jaga jika pengawas akan melihatnya. Mereka semua berbuat curang, bahkan mahasiswa yang jarang masuk pun dapat menjawab semua pertanyaa yang ada di kertas ujian. Kemudian aku tersenyum miris melihat perbuatan curang mereka. Buat apa nilai bagus kalau dari hasil yang tidak jujur.
          Tunggu dulu, kemudian aku merasa tersindir oleh diriku sendiri. Aaaah, apa sekarang aku termasuk golongan orang yang munafik? Kenapa aku begitu memandang rendah dan membenci mereka yang curang saat ujian. Toh, aku juga pernah melakukan hal itu tidak hanya sekali dua kali. Jika ada kesempatan untuk googling, aku selalu melakukannya demi mendapatkan jawaban. Tapi lagi-lagi aku melakukan pembelaan atas diriku yang hanya melakukan googling ketika menemukan soal yang benar-benar sulit untuk dijawab. Jika ku presentasikan , jawaban milku murni 80% dan 20% lagi hasil googling karena otakku tidak terlalu baik dalam mengingat teori.
          Kini, aku tidak lagi duduk di semester awal. Semester dimana aku memimpikan ipk tinggi atau bahkan cumlaude. Aku sudah merasakan itu dulu, saat semester 1 atau 2 ipk ku hampir mencapai nilai sempurna, aku senang saat orang tuaku memuji ku karena nilaiku. Tapi dalam hati kecilku aku merasa sangat miris, aku sadar nilai itu tidak murni kudapat karena kerja kerasku. Kemudian aku merasa malu, apakah dengan cara seperti ini aku akan membuat orang tuaku bangga? Lagi-lagi aku menyesal karena aku tidak memanfaatkan waktu luang ku untuk belajar. Aku kemudian bertekad untuk melakukan semuanya dengan lebih baik, aku bertekad untuk bersikap jujur dalam ujian. Meskipun nanti nilai yang ku dapatkan tidak sempurna tadi setidaknya aku bisa tahu kemampuan diriku.
          Aku tahu aku munafik, sok suci dan sok melakukan hal benar. Mungkin orang orang akan menilaiku seperti itu. Tapi kurasa cukup untuk membohongi dosen, membohongi orang-orang, membohongi orang tuaku dan yang pasti membohongi diri sendiri. Ya setidaknya aku masih punya hati nurani yang menuntunku dan memberitahuku kalau apa yang aku lakukan selama ini salah. Apalagi denga beasiswa yang ku terima sekarang, aku akan merasa sangat malu jika aku mendapatkan ipk sempurna dengan jalan yang tidak semestinya.
          Kau tahu kan? Kejujuran dan perbuatan baik bukanlah untuk orang lain, bukan untuk dinilai orang lain. Tapi itu semua untuk dirimu sendiri, untuk kebaikan mu sendiri.


Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...