Akhir- akhir ini aku jadi sangat jobless , maklum nasib seorang partime
yang tidak bisa bekerja Fullshift seperti
pekerja normal lainnya. Saat punya banyak waktu luang kadang aku merasa sangat
bosan dan merindukan kesibukan, aku tidak terbiasa berdiam diri dan terkurung
di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun. Berbaring dikasur, merenung,
memikirkan hal yang seharus nya tidak perlu aku pikirkan. Menonton drama,
merasa bosan, berjalan kesana kemari dan tidak tahu harus mengisi waktuku
dengan apa. Akhirnya, tiba-tiba aku teringat bahwa sebentar lagi ujian akhir
semester akan tiba dan juga banyak tugas kampus yang belum ku selesaikan.
Aku tidak pernah se-semangat ini dalam
belajar. Sebentar, jika ku pikir lagi aku memang pernah sangat antusias dalam
belajar dan bertekad mendapatkan nilai yang sempurna. Seiring berjalannya waktu
semangat itu luntur oleh berbagai faktor, dan sekarang aku mencoba kembali
membangkitkan keinginanku untuk belajar. Meskipun rasanya berat tapi aku kembali
mencoba membuka buku catatanku, mencari dan menulis ulang materi yang pernah ku
pelajari selama di kelas. Sering kali aku merasa kesal dan meyesal setiap
berhadapan dengan kertas ujian, aku marah pada diriku sendiri karena tidak
pernah memanfaatkan waktu untuk belajar sehingga aku harus melakukan hal curang
demi bisa mengisi lembar jawaban ujian.
Saat ujian adalah saat saat yang
menjengkelkan, aku terbiasa dengan system kebut semalam, bayangkan saja dalam
semalam aku harus menjejali otakku dengan 3 mata kuliah yang akan diuji besok
harinya. Aku merasa sangat lelah dan ingin segera berakhir. Yang lebih
menjengkelkan nya lagi, mahasiswa dikelasku selalu datang paling awal berebut
kursi untuk bisa duduk dipaling belakang. Tahu sendiri, di belakang kita bebas untuk
berbuat curang entah itu melihat catatan yang diselipkan di kertas ujian,
mencari jawaban di google atau sekedar mencontek pekerjaan teman sebelah. Dan
sialnya , 3 tahun berturut turut aku selalu kehabisan bangku belakang dan duduk
di depan, di dekat pengawasan dosen meski pernah sesekali merasakan duduk di
belakang.
Kiri dan kanan ku melakukan hal curang
secara diam-diam, mereka seolah tidak peduli dengan tatapan teman-teman yang
lain. Toh, orang orang juga melakukan hal yang sama. Ketika kebingungan
mendapatkan jawaban, aku rehat sejenak dan menoleh ke belakang ku lihat hampir
semua orang yang duduk di belakang menundukan kepala mereka sembari
berjaga-jaga jika pengawas akan melihatnya. Mereka semua berbuat curang, bahkan
mahasiswa yang jarang masuk pun dapat menjawab semua pertanyaa yang ada di
kertas ujian. Kemudian aku tersenyum miris melihat perbuatan curang mereka.
Buat apa nilai bagus kalau dari hasil yang tidak jujur.
Tunggu dulu, kemudian aku merasa
tersindir oleh diriku sendiri. Aaaah, apa sekarang aku termasuk golongan orang
yang munafik? Kenapa aku begitu memandang rendah dan membenci mereka yang
curang saat ujian. Toh, aku juga pernah melakukan hal itu tidak hanya sekali
dua kali. Jika ada kesempatan untuk googling,
aku selalu melakukannya demi mendapatkan jawaban. Tapi lagi-lagi aku
melakukan pembelaan atas diriku yang hanya melakukan googling ketika menemukan soal yang benar-benar sulit untuk
dijawab. Jika ku presentasikan , jawaban milku murni 80% dan 20% lagi hasil googling karena otakku tidak terlalu
baik dalam mengingat teori.
Kini, aku tidak lagi duduk di semester
awal. Semester dimana aku memimpikan ipk tinggi atau bahkan cumlaude. Aku sudah
merasakan itu dulu, saat semester 1 atau 2 ipk ku hampir mencapai nilai
sempurna, aku senang saat orang tuaku memuji ku karena nilaiku. Tapi dalam hati
kecilku aku merasa sangat miris, aku sadar nilai itu tidak murni kudapat karena
kerja kerasku. Kemudian aku merasa malu, apakah dengan cara seperti ini aku
akan membuat orang tuaku bangga? Lagi-lagi aku menyesal karena aku tidak
memanfaatkan waktu luang ku untuk belajar. Aku kemudian bertekad untuk
melakukan semuanya dengan lebih baik, aku bertekad untuk bersikap jujur dalam
ujian. Meskipun nanti nilai yang ku dapatkan tidak sempurna tadi setidaknya aku
bisa tahu kemampuan diriku.
Aku tahu aku munafik, sok suci dan sok
melakukan hal benar. Mungkin orang orang akan menilaiku seperti itu. Tapi
kurasa cukup untuk membohongi dosen, membohongi orang-orang, membohongi orang
tuaku dan yang pasti membohongi diri sendiri. Ya setidaknya aku masih punya
hati nurani yang menuntunku dan memberitahuku kalau apa yang aku lakukan selama
ini salah. Apalagi denga beasiswa yang ku terima sekarang, aku akan merasa
sangat malu jika aku mendapatkan ipk sempurna dengan jalan yang tidak
semestinya.
Kau tahu kan? Kejujuran dan perbuatan
baik bukanlah untuk orang lain, bukan untuk dinilai orang lain. Tapi itu semua
untuk dirimu sendiri, untuk kebaikan mu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar