Minggu, 20 Mei 2018

Ujian dan kemunafikan



          Akhir- akhir ini aku jadi sangat jobless , maklum nasib seorang partime yang tidak bisa bekerja Fullshift seperti pekerja normal lainnya. Saat punya banyak waktu luang kadang aku merasa sangat bosan dan merindukan kesibukan, aku tidak terbiasa berdiam diri dan terkurung di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun. Berbaring dikasur, merenung, memikirkan hal yang seharus nya tidak perlu aku pikirkan. Menonton drama, merasa bosan, berjalan kesana kemari dan tidak tahu harus mengisi waktuku dengan apa. Akhirnya, tiba-tiba aku teringat bahwa sebentar lagi ujian akhir semester akan tiba dan juga banyak tugas kampus yang belum ku selesaikan.
          Aku tidak pernah se-semangat ini dalam belajar. Sebentar, jika ku pikir lagi aku memang pernah sangat antusias dalam belajar dan bertekad mendapatkan nilai yang sempurna. Seiring berjalannya waktu semangat itu luntur oleh berbagai faktor, dan sekarang aku mencoba kembali membangkitkan keinginanku untuk belajar. Meskipun rasanya berat tapi aku kembali mencoba membuka buku catatanku, mencari dan menulis ulang materi yang pernah ku pelajari selama di kelas. Sering kali aku merasa kesal dan meyesal setiap berhadapan dengan kertas ujian, aku marah pada diriku sendiri karena tidak pernah memanfaatkan waktu untuk belajar sehingga aku harus melakukan hal curang demi bisa mengisi lembar jawaban ujian.
          Saat ujian adalah saat saat yang menjengkelkan, aku terbiasa dengan system kebut semalam, bayangkan saja dalam semalam aku harus menjejali otakku dengan 3 mata kuliah yang akan diuji besok harinya. Aku merasa sangat lelah dan ingin segera berakhir. Yang lebih menjengkelkan nya lagi, mahasiswa dikelasku selalu datang paling awal berebut kursi untuk bisa duduk dipaling belakang. Tahu sendiri, di belakang kita bebas untuk berbuat curang entah itu melihat catatan yang diselipkan di kertas ujian, mencari jawaban di google atau sekedar mencontek pekerjaan teman sebelah. Dan sialnya , 3 tahun berturut turut aku selalu kehabisan bangku belakang dan duduk di depan, di dekat pengawasan dosen meski pernah sesekali merasakan duduk di belakang.
          Kiri dan kanan ku melakukan hal curang secara diam-diam, mereka seolah tidak peduli dengan tatapan teman-teman yang lain. Toh, orang orang juga melakukan hal yang sama. Ketika kebingungan mendapatkan jawaban, aku rehat sejenak dan menoleh ke belakang ku lihat hampir semua orang yang duduk di belakang menundukan kepala mereka sembari berjaga-jaga jika pengawas akan melihatnya. Mereka semua berbuat curang, bahkan mahasiswa yang jarang masuk pun dapat menjawab semua pertanyaa yang ada di kertas ujian. Kemudian aku tersenyum miris melihat perbuatan curang mereka. Buat apa nilai bagus kalau dari hasil yang tidak jujur.
          Tunggu dulu, kemudian aku merasa tersindir oleh diriku sendiri. Aaaah, apa sekarang aku termasuk golongan orang yang munafik? Kenapa aku begitu memandang rendah dan membenci mereka yang curang saat ujian. Toh, aku juga pernah melakukan hal itu tidak hanya sekali dua kali. Jika ada kesempatan untuk googling, aku selalu melakukannya demi mendapatkan jawaban. Tapi lagi-lagi aku melakukan pembelaan atas diriku yang hanya melakukan googling ketika menemukan soal yang benar-benar sulit untuk dijawab. Jika ku presentasikan , jawaban milku murni 80% dan 20% lagi hasil googling karena otakku tidak terlalu baik dalam mengingat teori.
          Kini, aku tidak lagi duduk di semester awal. Semester dimana aku memimpikan ipk tinggi atau bahkan cumlaude. Aku sudah merasakan itu dulu, saat semester 1 atau 2 ipk ku hampir mencapai nilai sempurna, aku senang saat orang tuaku memuji ku karena nilaiku. Tapi dalam hati kecilku aku merasa sangat miris, aku sadar nilai itu tidak murni kudapat karena kerja kerasku. Kemudian aku merasa malu, apakah dengan cara seperti ini aku akan membuat orang tuaku bangga? Lagi-lagi aku menyesal karena aku tidak memanfaatkan waktu luang ku untuk belajar. Aku kemudian bertekad untuk melakukan semuanya dengan lebih baik, aku bertekad untuk bersikap jujur dalam ujian. Meskipun nanti nilai yang ku dapatkan tidak sempurna tadi setidaknya aku bisa tahu kemampuan diriku.
          Aku tahu aku munafik, sok suci dan sok melakukan hal benar. Mungkin orang orang akan menilaiku seperti itu. Tapi kurasa cukup untuk membohongi dosen, membohongi orang-orang, membohongi orang tuaku dan yang pasti membohongi diri sendiri. Ya setidaknya aku masih punya hati nurani yang menuntunku dan memberitahuku kalau apa yang aku lakukan selama ini salah. Apalagi denga beasiswa yang ku terima sekarang, aku akan merasa sangat malu jika aku mendapatkan ipk sempurna dengan jalan yang tidak semestinya.
          Kau tahu kan? Kejujuran dan perbuatan baik bukanlah untuk orang lain, bukan untuk dinilai orang lain. Tapi itu semua untuk dirimu sendiri, untuk kebaikan mu sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...