Rabu, 27 September 2017

Pelukan penenang


Selasa 19 September 2017

Sore yang mendung
Kita bicara banyak, berdebat satu sama lain dan tak pernah mau mengalah
Kamu memang selalu seperti itu, berpegang teguh pada argumentasi yang kamu pertahankan mati-matian sampai akhirnya aku Cuma bisa diam dan menganggukan kepala.

Ini hari terakhir, besok-besok aku tidak akan bisa melihatmu lagi
Atau mendengar omelanmu yang terkadang menyebalkan
Padahal malam kemarin aku sudah membasahi bantalku dengan tangisan, membayangkan ruang sepi yang akan kamu tinggalkan besok. Tapi saat kamu duduk disampingku sekarang, hanya tawa yang bisa kutunjukan.

Sampai akhirnya, kamu menyuruhku mengepakan sayap
Terbang tanpa harus memperdulikan kamu
Sampai akhirnya satu kalimat yang kamu ucapkan berhasil membuat bendungan air mata pecah begitu saja.

Tangan lembutmu menarikku kedalam dekapan
Memelukku dengan erat, mengusap punggungku dan berulang kali mengatakan kalau air mata perempuan begitu berharga dan tidak boleh dikeluarkan sembarangan

Sampai akhirnya kulihat matamu juga berkaca-kaca
Oh, ini pertama kalinya aku melihat seorang lelaki menangis di depanku
Aku mengusap air matamu dan mengatakan untuk tidak menangis

Hingga akhirnya kita sepakat dengan perpisahan
Waktu memang terlalu kejam
Apakah ia tidak mengerti bahwa aku ingin selalu bersamamu? dan kamu membuatku menjadi semakin serakah menginginkan kehadiranmu.

Kamu dan waktu sama-sama kejam, membuatku menangis sendirian


Senin, 04 September 2017

Perempuan

Untuk perempuan yang tengah mengenyam pendidikan
Untuk mahasiswi tingkat akhir yang merasakan lelah nya revisi skripsi, dan berputus asa lalu ingin menikah saja.
Untuk siapapun yang mengatakan “Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Beli beras pakai uang, bukan pakai ijazah”

Here, I tell you something.

Lucu Rasanya saat masih saja ada orang bermindset sangat kolot dan bilang “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Perempuan itu ujung nya dapur, kasur, sumur”.  Kalimat itu tidak 100% salah, tidak juga 100% benar.
Menurutku, pendidikan itu penting. Sangat penting, apalagi untuk perempuan.Terus kalau tidak berpendidikan, kelak anakmu nanya “Mak, ini rumus phytagoras gimana ya?” Lalu, kamu akan jawab “Aduh nak mama gak tahu, tahunya cara ngiris bawang dengan simetri aja”. Orang tua itu Madrasah, sekolah pertama untuk anak ketika lahir ke dunia. Bayangkan kalau orang tuanya minim pendidikan, bagaimana mereka mau mendidik anak?

Tidak ada yang salah dengan menikah, atau menikah muda. Silahkan, apalagi dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa menikah adalah ibadah. Dan rezeki akan lebih dimudahkan setelah menikah. Tapi tunggu dulu, menikah bukan seperti lari marathon, harus dulu-duluan sampai. Harus menyusul teman yang sudah terikat dengan halal. Menikah bukan lari estapet, mengoper tongkat. Setelah bulan lalu temanmu menikah, bulan depan kamu harus menikah? Tidak, bukan seperti itu.
Menikah itu, bukan Cuma menyatukan dua kepala, dua ideologi dan dua pemikiran berbeda jadi satu untuk sama-sama mengarungi sebuah bahtera. Menikah itu menyatukan dua keluarga, dua keluarga yang punya latar belakang berbeda. 

Menikah itu butuh kesiapan, siap mental, fisik, siap mengambil resiko, dan siap untuk mandiri karena tidak lagi bergantung atau mengandalkan orang tua.
Seorang perempuan muda yang mentalnya belum siap, yang fisik nya belum matang, dan organ reproduksinya belum mampu menjalankan tugasnya dengan baik lalu diharuskan segera menikah? Sama saja seperti merusak masa depannya. Banyak aspek yang harus di pertimbangkan sebelum menikah, di pikirkan matang-matang, karena menikah bukan main rumah-rumahan yang kalau sudah bosan udahan lalu selesai dan bubar.

Berpendidikan itu penting, membentuk karakter, memberikan wawasan, membuat diri menjadi bertutur kata dan prilaku baik. Mengupgrade diri menjadi versi terbaik itu penting. Selama masih muda, mencari dan mendapatkan ilmu itu penting untuk bekal meghadapi segala kemungkinan hidup yang kadang tak pernah mau sejalan.  Selagi masih muda, apa salah nya berkarya,berkarir, belajar, mendapatkan banyak teman baru, ilmu baru, dan pengalaman yang membuat kita tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa.

Soal pasangan? Santai saja, tidak perlu buru-buru. Saat teman-temanmu mengirim kartu undangan pernikahan, berbahagialah. Berfokus memantaskan diri saja toh, orang yang tepat akan di pertemukan di waktu yang tepat juga. Bukankah semuanya sudah diatur yang maha kuasa? Lalu harus mencemaskan apa?. Seseorang yang berkualitas, akan bertemu dengan jodoh yang berkualitas juga. Karena yang baik hanyalah untuk orang-orang baik.

Lalu, kalau temanmu terus nanya “Kapan nikah?” Santai saja dan jawab
“Kalau nggak sabtu, insyallah minggu”

Sekian,Baca nya jangan terlalu serius. Nulisnya juga sambil santai
Wassalam.


Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...