Selasa 19 September 2017
Sore yang mendung
Kita bicara banyak, berdebat satu sama lain dan tak pernah
mau mengalah
Kamu memang selalu seperti itu, berpegang teguh pada
argumentasi yang kamu pertahankan mati-matian sampai akhirnya aku Cuma bisa
diam dan menganggukan kepala.
Ini hari terakhir, besok-besok aku tidak akan bisa melihatmu
lagi
Atau mendengar omelanmu yang terkadang menyebalkan
Padahal malam kemarin aku sudah membasahi bantalku dengan
tangisan, membayangkan ruang sepi yang akan kamu tinggalkan besok. Tapi saat
kamu duduk disampingku sekarang, hanya tawa yang bisa kutunjukan.
Sampai akhirnya, kamu menyuruhku mengepakan sayap
Terbang tanpa harus memperdulikan kamu
Sampai akhirnya satu kalimat yang kamu ucapkan berhasil
membuat bendungan air mata pecah begitu saja.
Tangan lembutmu menarikku kedalam dekapan
Memelukku dengan erat, mengusap punggungku dan berulang kali
mengatakan kalau air mata perempuan begitu berharga dan tidak boleh dikeluarkan
sembarangan
Sampai akhirnya kulihat matamu juga berkaca-kaca
Oh, ini pertama kalinya aku melihat seorang lelaki menangis
di depanku
Aku mengusap air matamu dan mengatakan untuk tidak menangis
Hingga akhirnya kita sepakat dengan perpisahan
Waktu memang terlalu kejam
Apakah ia tidak mengerti bahwa aku ingin selalu bersamamu? dan kamu membuatku menjadi semakin serakah menginginkan kehadiranmu.
Kamu dan waktu sama-sama kejam, membuatku menangis sendirian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar