Senin, 08 Januari 2018

Tidak Pernah Cukup



Kadang definisi dari kata “Cukup” ini bikin aku bingung. Saat seseorang mengatakan cukup, itu takarannya seperti apa? Dan keresahan serta rasa jengkel kembali mengusik saat semua yang aku lakukan terasa tidak pernah “cukup” untuk orang lain. Padahal seingatku, aku sudah sangat berusaha, sudah sangat mengorbankan waktu, Tenaga dan juga pikiran untuk bisa meringankan bebannya. Aku bahkan tidak mengeluh, tidak meminta seperti kebanyakan anak lainnya yang minta uang jajan bulanan, minta uang untuk jalan-jalan, minta uang untuk nyalon, untuk nongkrong atau untuk berfoya-foya.  Aku tidak pernah melakukan semua itu. Bahkan dengan rasa lelah sekalipun, aku tidak pernah mengeluhkan hal itu pada mereka, karena aku rasa aku sudah cukup dewasa untuk menanggung semuanya sendirian meskipun kadang aku juga butuh sandaran, butuh bahu untuk menangis, dan butuh seseorang yang mau memeluk dengan erat sambil berakata “You are the best, you doing you’re best”
Setidaknya kata-kata seperti itu akan membuatku kembali bersemangat saat aku lelah, saat aku merasa sangat bosan dan sangat ingin berhenti dari rutinitas sehari-hariku. Seharusnya mereka mengatakan itu, untuk mendukungku secara emosional. Bukan malah membuatku merasa tidak berguna. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu memintaku untuk mencari yang lebih baik, lebih besar , lebih menguntungkan, padahal sudah ratusan kali aku memberikan pemahaman bahwa aku tidak bisa seperti itu bukan karena tidak mau, tapi karena waktu yang masih terikat dengan kewajibanku sebagai pelajar dan mengejar gelar. Aku tidak mengerti bagaimana aku selalu dirasa tidak cukup untuk membantunya meringankan beban. Yang kudengar setiap hari hanya keluhan, rintihan, dan ratapan, membuatku semakin merasa sangat tidak berguna.
Kupikir seharusnya beliau mengerti kondisi ku yang tidak memungkinkan ini untuk meringankan seluruh bebanya, kalau hanya separuh atau sebagian aku masih sanggup makanya kenapa sampai sekarang aku masih bertahan disana. Karena rasanya aku tidak ingin menambah beban di pundaknya, tapi ternyata usaha yang selama ini ku lakukan seperti tidak pernah cukup. Aku tidak mengerti kenapa yang aku lakukan selalu saja tidak pernah cukup, padahal jika beliau ingin meminta lebih seharusnya beliau paham aku harus meninggalkan dunia pendidikanku jika memang materi semata yang dicari.
Bukankah semua ada waktunya? Saat lulus nanti, aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan yang lebih besar. Yang tentunya akan sangat meringankan beban beliau, jadi beliau tidak perlu risau akan biaya ini itu, karena aku bisa mengurusi diriku sendiri. Bukankah itu nanti ada waktunya, karena sekarang mungkin memang belum waktunya. Kenapa tidak sedikit bersabar dan mensyukuri apa yang sudah aku miliki sekarang?

Mungkin memang seperti itu tabiatnya manusia, tidak pernah merasa cukup dengan karunia yang sudah Tuhan berikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kapan Nikah?

            Memasuki usia 23 Tahun adalah berkah, sekaligus bencana. Diusia ini orang- orang sibuk bertanya “Kapan Nikah?” Aku yang aw...